Iran Kutuk Kekerasan di Xinjiang, Tiongkok
Kamis, 31 Juli 2014 19:50 WIB
Teheran, (Antara/IRNA/Reuters) - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marzieh Afkham, Rabu, mengutuk serangan kekerasan di Xinjiang, Tiongkok, dan mengatakan bahwa prinsip kebijakan Iran menolak ekstremisme dan kekerasan.
Dia membuat pernyataan setelah serangan teror di wilayah Xinjiang, Tiongkok, yang menewaskan dan melukai puluhan orang.
Puluhan orang tewas dan terluka dalam serangan teroris di wilayah barat jauh Tiongkok, Xinjiang, rumah bagi minoritas Muslim Uighur, kata media pemerintah Selasa.
Satu geng dengan menghunus pisau menyerang sebuah kantor polisi dan kantor-kantor pemerintah di Kota Shache, Senin pagi, kata kantor berita resmi Xinhua mengutip polisi setempat, dan "puluhan warga sipil Uighur dan Han tewas atau terluka".
"Petugas polisi di lokasi kejadian menembak mati puluhan anggota massa," tambah laporan itu.
"Penyelidikan awal menunjukkan bahwa itu adalah serangan teror yang direncanakan," katanya.
Dari Beijing Reuters melaporkan bahwa seorang profesor terkemuka etnis Uighur dari wilayah Xinjiang akan diadili dengan tuduhan separatisme dalam beberapa pekan mendatang, kata pengacaranya Kamis, dalam kasus yang telah menarik perhatian pelanggaran peradilan dan hak asasi manusia.
Tiongkok Rabu secara resmi mendakwa Ilham Tohti, seorang
ekonom yang telah memperjuangkan hak-hak masyarakat Muslim Uighur
dari daerah itu, yang telah terkepung oleh kekerasan dan ketegangan etnis.
Kasus ini telah menarik perhatian tingkat tinggi di Amerika
Amerika dan Uni Eropa dan dipandang oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia sebagai bagian dari tindakan keras Tiongkok terhadap perbedaan pendapat di Xinjiang, di mana ketegangan antara suku Uighur dan mayoritas Han China telah menyebabkan ledakan kekerasan.
Polisi Beijing menahan Tohti pada Januari dan kemudian membawanya ke Xinjiang, ibu kota Urumqi, di mana ia dituduh mempromosikan dan mendukung kemerdekaan wilayah itu dari Tiongkok.
Tohti telah membantah tuduhan separatisme yang dia hadapi, tuduhan serius yang membawa hukuman maksimum mati.
Tohti, yang mengajar di Universitas Minzu Beijing, yang
mengkhususkan diri dalam studi etnis minoritas, mengatakan dia tidak pernah terkait dengan organisasi teroris atau kelompok berbasis asing dan "hanya mengandalkan pena serta kertas untuk secara diplomatis
meminta "hak asasi manusia dan hak-hak hukum bagi warga Uighur." (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Aliansi Peradaban PBB kutuk pembakaran Al Quran di Swedia, sebut sebagai tindakan keji
24 January 2023 6:02 WIB, 2023
LPOI dan LPOK kutuk keras aksi pembakaran Al Quran oleh politisi Swedia
23 January 2023 16:37 WIB, 2023
Pakistan bergabung dengan negara-negara muslim kutuk serbuan Israel ke Masjid Al Aqsa
08 August 2022 13:49 WIB, 2022
Pasar Bawah Bukittinggi diduga sengaja dibakar OTK, Wako Erman Safar kutuk pelaku jika terbukti (Video)
24 November 2021 13:57 WIB, 2021
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018