Bangkok, (Antara/TNA-0ANA) - Dalam menanggapi aksi kekerasan di Libya, Jenderal Prayuth Chan-ocha, Panglima Militer dan Ketua Dewan Nasional untuk Ketentraman dan Ketertiban (NCPO), meminta kepada Kementerian Luar Negeri untuk mengevakuasi semua 1.500 warga Thailand dari negara Afrika itu. Nuttavudh Photisaro, wakil sekretaris tetap kementerian, mengatakan bahwa Jenderal Prayuth mengeluarkan perintah untuk keselamatan rakyat Thailand. Kittipong Na Ranong, Duta Besar Thailand untuk Tripoli di Libya, melaporkan bahwa pertempuran membuat Tripoli menjadi daerah yang paling berbahaya dan ada 11 mahasiswa Thailand di sana. Evakuasi akan dimulai dengan para mahasiswa dan 30 orang Thailand yang tinggal di sekitar bandara yang tertutup rapat. Kelompok kedua akan dievakuasi 70 orang Thailand di Benghazi. Sisanya semua 1.500 orang Thailand kemudian akan benar-benar dievakuasi dalam 48 jam. Warga Thailand akan dibawa ke akomodasi sementara di Tunis dan Djerba, Tunisia, sekitar 150 kilometer atau sekitar dua jam perjalanan dari perbatasan Libya. Kemudian mereka akan dipulangkan ke Thailand. Keputusan ini didasarkan pada kemungkinan bahwa kekerasan akan berkepanjangan di Libya. Para pejabat Departemen Luar Negeri dan Departemen Tenaga Kerja serta dokter militer memfasilitasi evakuasi. Wakil Sekretaris tetap untuk urusan luar negeri juga mengatakan bahwa kekerasan mungkin meminta penutupan sementara kedutaan Thailand di Libya. Jepang dan Amerika Serikat telah melakukannya. Keluarga para pejabat Thailand di kedutaan sudah dievakuasi dan para pejabat akan menjadi kelompok terakhir dari rakyat Thailand untuk meninggalkan negara itu, kata Nuttavudh. Pada 30 Juli, direktur jenderal Departemen Tenaga Kerja akan membahas bantuan bagi pekerja dengan para eksekutif dari 11 perusahaan penempatan kerja yang mengirim pekerja Thailand ke Libya. (*/jno)