Ribuan Orang Ikut Pawai Pro-Demokrasi Hongkong
Selasa, 1 Juli 2014 16:09 WIB
Hongkong, (Antara/AFP) - Ribuan pengunjukrasa membawa spanduk, Selasa, berkumpul untuk mengikuti pawai pro-demokrasi, yang oleh penyelenggara disebut terbesar sepanjang sejarah penyerahan kota itu kembali ke Tiongkok.
Pawai itu dilakukan setelah sekitar 800.000 orang memberikan suara dalam referendum tidak resmi, yang meminta mekanisme pemilihan agar dapat membolehkan pemilih mengusulkan calon pemimpin.
Pemungutan suara itu oleh Beijing dianggap tidak sah.
Taman Victoria, tempat pawai akan berawal, menuju kawasan bisnis yang penuh gedung pencakar langit, dipenuhi dengan lautan payung dan spanduk berisi seruan-seruan "Kami ingin demokrasi sesungguhnya" dan "Calon sipil untuk semua".
Sebagian pengunjukrasa menyanyikan versi Kanton dari lagu "Do you hear the people sing?" yang berasal dari drama musik "Les Miserables".
"Hong Kong berubah menjadi tempat yang semakin lama semakin berkurang kebebasannya," kata Eric Wong, seorang juru foto berusia 24 tahun yang ikut dalam pawai itu, kepada AFP.
"Ini berubah menjadi 'daratan'," katanya.
Penyelenggara memperkirakan setengah juta warga akan memgikuti pawai yang dianggap terbesar sejak 1997 itu.
Paul Yib, ahli statistik di Universitas Hong Kong mengatakan kepada harian "South China Morning Post" bahwa ia memimpin satu tim dari 10 kelompok yang sukarela mengikuti kerumunan tersebut.
Satu Juli merupakan hari protes yang dilakukan setiap tahun di Hongkong menandai peringatan penyerahan kembali kota tersebut dari Inggris ke Tiongkok pada 1997, dalam kesepakatan "Satu negara, dua sistem".
Kesepakatan itu memberikan kebebasan kepada warga Hong Kong, yang tidak diperoleh warga di daratan, termasuk kebebasan berbicara dan hak untuk mengajukan protes.
Tetapi ada kecemasan berat bahwa kebebasan itu kini telah terkikis.
Belakangan ini awak media mendapat serangan bertubi-tubi, termasuk penikaman terhadap seorang mantan redaktur surat kabar -- sedangkan media pro-demokrasi mengeluh adanya serangan siber besar-besaran.
Kecemasan makin merebak pada Juni ketika Beijing menyiarkan "kertas putih" tentang masa depan Hongkong. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018