Menlu Israel Sesalkan Perpecahan Kabinet Netanyahu
Selasa, 10 Juni 2014 11:06 WIB
Yerusalem, (Antara/AFP) - Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman Senin menyesalkan perbedaan sikap antar-menteri di negaranya terkait konflik dengan Palestina dan menekankan bahwa Israel membutuhkan satu rencana diplomasi utuh mengenai hal tersebut.
"Empat menteri senior masing-masing membicarakan arah diplomasi yang sangat berbeda sehingga menciptakan kesan yang terdistorsi," kata Leiberman yang membicarakan soal presentasi sejumlah menteri di konferensi keamanan Israel di Herzliya pada Ahad.
Salah satu tokoh yang memberikan presentasi di acara tersebut, Menteri Kehakiman Tzipi Livni, mengatakan bahwa Israel harus berupaya kembali berunding dengan Palestina meskipun ada Hamas di belakangnya.
Sementara Menteri Dalam Negeri Gideon Saar mendukung langkah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menghentikan perundingan dengan Palestina sejak bergabungnya Hamas.
Bertolak belakang dengan dua pendapat tersebut, Menteri Ekonomi Naftali Bennett justru mendesak pemerintahnya untuk menganeksasi sebagian wilayah Tepi Barat.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Yair Lapid berjanji akan menarik diri dari kabinet Netanyahu jika Israel benar-benar akan menganeksasi Tepi Barat sebagaimana diusulkan oleh Bennett.
"Ini bukan merupakan cara bagaimana kebijakan pemerintah direpresentasikan," kata Lieberman dalam konferensi keamanan Israel sebagaimana dikutip dari juru bicaranya.
"Kami harus memutuskan dan mendefinisikan satu program diplomatik yang akan mengikat semua pihak dalam pemerintahan," kata Lieberman.
Lieberman mengatakan bahwa dia cenderung pada upaya perundingan dengan Palestina. Namun di sisi lain juga mengingatkan bahwa upaya tersebut hanya merupakan satu bagian dari "keseluruhan diplomasi yang ditujukan untuk memperbaiki hubungan dengan seluruh wilayah Arab."
"Di Timur Tengah semua orang takut pada semua orang, oleh karena itu mereka semua harus maju ke meja perundingan pada waktu yang sama dan melakukannya secara bergiliran," kata dia.
"Negara moderat di dunia Arab sedang menghadapi ancaman yang sama dengan kami--Iran, Suriah, Al-Qaida dan kelompok garis keras Islam. Jika mereka ingin selamat, maka mereka harus bekerja sama dengan kami secara terbuka," kata Lieberman.
Sikap Lieberman tersebut bersesuaian dengan pernyataan Menteri Keuangan Yair Lapid yang mendesak Israel untuk segera kembali berunding dengan Palestina dan berupaya untuk menormalisasi hubungan dengan negara-negara moderat Arab seperti Arab Saudi.
Lapid mengingatkan bahwa kegagalan mendirikan negara Palestina akan menciptakan tuntutan status negara-bangsa ganda.
"Ini adalah waktu yang tepat bagi Israel untuk memutuskan di mana batas-batas negaranya," kata Lapid.
Sebelumnya, perundingan damai Israel-Palestina berakhir dengan kegagalan pada April lalu setelah sejumlah pemimpin di Tepi Barat dan Gaza (yang dikuasai Hamas) mengumumkan kesepakatan untuk membentuk pemerintah gabungan.
Israel menghentikan perundingan itu karena tidak ingin bernegosiasi dengan pemerintah yang didukung oleh kelompok Hamas. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Laga kualifikasi Piala Dunia 2026 Italia vs Israel diwarnai bentrokan demonstran pro-Palestina
15 October 2025 11:43 WIB
Benarkah dugaan 2 eks tentara Israel kelola vila di Bali? Imigrasi lakukan cek
06 August 2025 22:37 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018