Bupati Mentawai: Kalau Kita Damai Pembangunan Cepat

id Bupati Mentawai: Kalau Kita Damai Pembangunan Cepat

Bupati Mentawai: Kalau Kita Damai Pembangunan Cepat

Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet pada dialog bersama warga Parak Batu Pagai Selatan, Kamis (27/3)

Mentawai, (Antara) - Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet minta warganya tetap kondusif menjaga ketenangan, agar proses pembangunan berjalan lancar.

"Kalau kita tenang, kalau kita damai, maka pembangunan akan berjalan lebih cepat. Kalau terjadi masalah, saya minta kepada kepala dusun agar segera menyelesaikannya," kata Yudas pada sambutan peresmian lokasi pemukiman baru Dusun Parak Batu, Pagai Selatan, Kamis (27/3).

Yudas juga memberikan apresiasi kepada warga Dusun Parak Batu, yang telah bersedia direlokasi ke daerah yang lebih aman dari ancaman gempa dan tsunami.

"Jujur saya katakan, jarang ditemui ada warga yang kompak seperti warga di Parak Batu ini. Setelah diminta, langsung bersama-sama pindah ke tempat yang lebih aman dari bahaya bencana," ujar dia.

Namun demikian, bupati mengatakan, di lokasi baru masih banyak dibutuhkan sarana penunjang. Seperti jalan, jembatan, gedung pendidikan, kesehatan dan hal-hal lain, yang mesti segera dibangun pemerintah.

Terkait hal ini, dia juga meminta masukan-masukan dari warga untuk mewujudkannya.

"Berikan masukan kepada saya. Silahkan melalui surat, atau kalau perlu minta camat untuk rajin-rajin mengundang saya, apapun kegiatanya, tidak mesti formal, sunatan massal atau memasuki rumah baru misalnya saya siap datang. Yang penting kita bisa berdialog seperti ini," ujar Yudas.

Dia mengatakan, proses pembangunan diawali dari adanya masukan-masukan masyarakat melalui musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) dari tingkat desa, kecamatan sampai kabupaten. Tanpa masukan masyarakat, rencana pembangunan yang disepakati sebelumnya di Tuapejat sebagai ibu kabupaten Mentawai, bisa saja tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

"Saya baru dengar setelah melakukan dialog dengan masyarakat, ternyata masih ada juga guru-guru yang enggan melaksanakan tugasnya di sini. Ada juga sekolah yang sudah tiga bulan tidak melaksanakan proses belajar mengajar, kepala sekolah tidak pernah hadir, ini sangat memperihatinkan, padahal para tenaga pendidik itu telah menyatakan bersedia ditugaskan ditempat itu," kata dia.

Pemkab Mentawai, lanjutnya, memberikan prioritas pada pembangunan bidang pendidikan. Terbukti pada APBD tahun 2014, pemkab mengalokasikan 26 persen anggaran untuk pendidikan. Ini alokasi dana terbesar dibanding 19 kabupaten/kota se-Sumatera Barat di bidang pendidikan.

"Pemkab Mentawai konsen dengan pendidikan. Sebesar 26 persen dari APBD tahun ini untuk bidang pendidikan. Kami bangun sarana pendidikan, kami sekolahkan ratusan pelajar ke berbagai perguruan tinggi. Ini semua untuk peningkatan kualitas SDM ke depan, tapi kenapa justru guru yang sudah berstatus sebagai PNS tidak mau melaksanakan tugas dengan baik," kata dia.

Bupati janjikan segera menyelesaikan persoalan-persoalan bidang pendidikan itu. Melalui Dinas Pendidikan setempat, pihaknya segera menempatkan 100 orang guru kontrak yang akan diikat dengan perjanjian kesediaannya untuk ditempatkan di berbagai daerah di Kepulauan Mentawai.


"Tahun ini kami siapkan 100 orang guru kontrak yang dibiayai APBD. Mereka akan kami ikat dengan perjanjian untuk bersedia ditempatkan bersama masyarakat di sini. Biarlah ini upaya kami. Tidak ada rotan, akarpun jadi, meskipun tenaga kontrak mereka kan juga guru," ucap Yudas.

Pertemuan itu dilanjutkan dengan dialog bersama puluhan warga Dusun Parak Batu yang digelar di gereja GKPM daerah setempat. Dialog berjalan akrab, meski banyak pertanyaanpertanyaan yang cukup kritis dari warga setempat kepada bupati.

Selain bupati, ikut hadir dalam acara itu antara lain Wakil Ketua DPRD Mentawai Yan Winen Sipayung, Kabag Humas Joni Anwar, Camat Pagai Selatan Sarman Parningotan Simanungkalit, Kapolsek Sikakap, Iptu Edison Hulu, Ketua PWI Perwakilan Mentawai Eriyanto, tokoh agama, tokoh masyarakat dan puluhan warga Dusun Parak Batu. (**/dio/WIJ)
Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar