Logo Header Antaranews Sumbar

Taman Budaya Sumatera Barat seleksi lima komposer untuk tampil pada Soundenai 2026

Rabu, 20 Mei 2026 20:05 WIB
Image Print
Kepala Taman Budaya Sumbar M Devid (kiri) dan Akademisi Indra Ariffin (kanan) saat Lokakarya Komposisi Musik di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat di Padang, Selasa (19/5/2026). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Padang (ANTARA) - UPTD Taman Budaya Sumatera Barat akan menyeleksi lima komposer yang mengikuti lokakarya komposisi musik untuk tampil pada Festival Komposer Musik Sumatera Barat "Soundenai" 2026.

"Dari 25 peserta, akan diseleksi lima peserta yang akan tampil pada ajang Soundenai yang diselenggarakan Oktober 2026, sebelum itu mereka akan diberi waktu lima bulan untuk proses produksi di bawah bimbingan instruktur," Kepala UPTD Taman Budaya Sumbar, M. Devid, di Padang, Rabu.

Ia mengatakan, para komposer terpilih nantinya menjadi contoh nyata generasi baru yang mampu meramu kekayaan musik tradisi Minangkabau sesuai dengan tema "Menghidupkan Narasi melalui Akar Tradisi".

Menurutnya, setiap perubahan zaman harus dipelajari dan dimaknai dengan bijaksana sehingga membuat tradisi tidak boleh kaku, tetapi harus mampu tumbuh dan berdialog dengan perkembangan zaman.

Kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang terus bergerak, melahirkan tafsir baru, namun tetap menjaga akar nilai dan identitasnya.

"Kami juga berharap lokakarya ini dapat melahirkan ruang kolaborasi baru antara musisi, komposer, pembuat film, koreografer, dan pelaku seni pertunjukan di Sumatera Barat," katanya.

Dari lokakarya itu nantinya lahir karya-karya audio visual yang berkarakter lokal namun memiliki kualitas global, karya-karya yang mampu memperkenalkan identitas budaya Minangkabau kepada dunia luas melalui medium seni modern.

Narasumber dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Indra Ariffin mengatakan, potensi musik tradisi di Sumatera Barat sangat luas yang mewakili geografis masing-masing, namun belum dapat dolah secara maksimal.

Ia sepakat dengan kampanye pemerintah menjadikan musik sebagai daya gerak ekonomi baru, namun ia menilai musik juga dapat menjadi komoditi yang tidak mempedulikan aspek ekonomis dan hadir sebagai idealisme di tengah-tengah masyarakat. (*)



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026