Logo Header Antaranews Sumbar

Koreografer perkenalkan riset berbasis praktik dalam penciptaan tari kontemporer

Selasa, 12 Mei 2026 20:40 WIB
Image Print
Koreografer Denny Maiyosta (kanan) berbincang dengan Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Syaiful Bahri (kiri) di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat di Padang, Senin (11/5/2026). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Padang (ANTARA) - Koreografer Denny Maiyosta memperkenalkan metodologi riset berbasis praktik (practice as research/Par) dalam penciptaan karya tari kontemporer kepada peserta lokakarya tari digelar Taman Budaya Sumatera Barat.

"Wacana seni pertunjukan kontemporer telah melampaui pemisahan tradisional antara teori dan praktik, karya kreatif tidak lagi sekadar produk estetis di atas panggung, melainkan sebuah bentuk penyelidikan intelektual yang setara dengan penelitian akademis," jelas akademisi dari ISI Padang Panjang itu di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat di Padang, Selasa.

Hal tersebut disampaikannya kepada 25 peserta yang mengikuti lokakarya tari mengusung tema “Pulang ke Akar: Membaca Tradisi, Menulis Tubuh".

Denny menjelaskan, pada masa kini melalui metode riset berbasis praktik, setiap gerakan adalah sebuah hipotesis dan tubuh penari adalah instrumen pengumpul data somatik.

Ia juga memaparkan empat pilar kriteria riset yang harus dilakukan peserta, yakni pertama terkait orisinalitas, apakah karya itu menawarkan kebaruan, dan fokus pada pencarian perspektif yang belum pernah ada, bukan sekadar pengulangan tradisi.

Kedua signifikansi, apakah karya ini penting, menuntut relevansi dan kegunaan wawasan bagi seniman lain atau masyarakat luas.

Ia menjelaskan pilar ketiga adalah ketelitian, apakah prosesnya mendalam, dan ada bukti bahwa seniman telah menggali, mengevaluasi secara kritis, dan melakukan pencarian berulang di studio.

Kemudian pilar keempat adalah dampak, apakah mampu mengubah keadaan, dan seberapa kemampuan luaran riset untuk mempengaruhi pemikiran, praktik disiplin lain, atau mengubah struktur sosial.

Dalam kerangka riset Denny Maiyosta, tradisi Minangkabau tidak diperlakukan sebagai relikui sejarah, melainkan sebagai sumber ilmu pengetahuan gerak yang sangat presisi. (*)



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026