
Objek wisata di Padang Pariaman mulai dikunjungi wisatawan pasca terdampak bencana

Parik Malintang (ANTARA) - Objek wisata di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) mulai dikunjungi wisatawan pasca terdampak bencana hidrometrologi yang terjadi pada akhir 2025 meskipun infrastruktur pendukung di lokasi dan menuju destinasi wisata di daerah itu masih mengalami kerusakan.
"Objek wisata sudah beroperasi kembali, bahkan telah banyak wisatawan berkunjung diantaranya di Pemandian Rumah Putiah dan Lubuk Bonta (Kecamatan 2x11 Kayu Tanam)," kata Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Padang Pariaman, Anton Wira Tanjung di Parik Malintang, Senin.
Ia mengatakan objek wisata minat khusus di Padang Pariaman yaitu LA Rafting dan Lubuk Nyarai juga telah mulai dikunjungi wisatawan meskipun jumlahnya masih sedikit karena jembatan khususnya ke Lubuk Nyarai masih putus sehingga wisatawan menggunakan jalan alternatif yaitu jalan lingkar Stadion Utama Sumbar.
Ia menyebutkan setidaknya 12 dari 21 objek wisata yang aktif di Padang Pariaman mengalami kerusakan bidang infrastruktur. Namun, lanjutnya untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman melaksanakan aksi bersih-bersih di empat objek wisata.
"Namun untuk perbaikan kami belum bisa karena saat bencana terjadi penyusunan anggaran 2026 telah selesai," katanya.
Namun, lanjutnya Pemkab Padang Pariaman telah mengusulkan revitalisasi infrastruktur di objek wisata yang rusak akibat bencana kepada Kementerian Pariwisata RI.
"Insya Allah pada 28 Februari kami akan diterima oleh beberapa deputi untuk memaparkan kondisi pariwisata Padang Pariaman pasca-mengalami bencana," ujarnya.
Ia berharap agenda tersebut dapat berjalan dengan baik sehingga fasilitas wisata dan infrastruktur pendukung wisata yang rusak akibat bencana dapat segera dibantu perbaikannya oleh pemerintah pusat.
Ia menyebutkan kerugian Padang Pariaman akibat rusaknya infrastruktur wisata karena bencana mencapai Rp21 miliar. Selain itu, lanjutnya dampak yang ditimbulkan dari kerusakan tersebut mencapai Rp3 miliar karena aktivitas wisata tidak berjalan selama tanggap darurat.
"Oleh karena itu kami melaksanakan aksi bersih-bersih objek wisata beberapa waktu lalu agar sektor wisata kembali menggeliat sehingga ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor ini dapat kembali membaik," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata Lubuak Nyarai dan Direktur LA Rafting, Ritno Kurniawan mengatakan semenjak awal 2026 pihaknya telah menerima kunjungan wisatawan untuk kedua objek wisata tersebut meskipun jumlahnya turun drastis.
"Ini karena jalan lintas Padang-Bukittinggi (Lembah Anai) masih terganggu. Arus kendaraan masih buka-tutup," kata dia.
Ia mengatakan wisatawan menggunakan jalan alternatif untuk menuju ke Lubuk Nyarai pasca-Jembatan Koto Buruak ambruk. Selain itu, lanjutnya untuk jembatan di kawasan wisata yang rusak telah dibangun jembatan alternatif.
Sedangkan untuk objek wisata arum jeram yang dijalankan oleh LA Rafting juga telah dikunjungi oleh delapan wisatawan namun jumlah itu jauh merosot karena sebelumnya bisa mencapai puluhan wisatawan perbulan.
Ia menyampaikan kondisi jeram di objek wisata tersebut telah berubah karena banjir bandang sehingga mengubah jalur sungai.
Ia berharap jalan di Lembah Anai dapat segera pulih sehingga sektor pariwisata di daerah itu dapat kembali menggeliat seperti sebelumnya.
Ritno juga menyampaikan terkait dengan kondisi pemandu wisata setempat yang terpaksa menjalankan usaha lainnya selama tidak ada wisatawan mulai dari bertani, berdagang, hingga menjadi tukang ojek.
Beruntung, lanjutnya pemandu wisata tersebut juga mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah sehingga mengurangi beban mereka saat tidak ada kunjungan wisatawan.
Pewarta: Aadiaat Makruf S.
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
