Padang (ANTARA) - Pertunjukan randai berjudul “Tragedi Perang Sintuak” tampil memukau di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) pada Sabtu (22/11) malam, tepatnya di panggung Fabriek Padang.
Pertunjukan randai tersebut adalah puncak dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Tim Pengabdi dalam Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Hibah dari Kemdiktisaintek RI 2025.
"Kami bangga bisa menyuguhkan pertunjukkan randai yang mengangkat kisah "Perang Sintuak", pertunjukan ini merupakan hasil dari rangkaian kegiatan intensif selama dua bulan terkahir," kata Ketua Tim Venny Rosalina di Padang, Minggu.
Ia menerangkan Randai tersebut sengaja mengangkat kisah peristiwa bersejarah pada 7 Juni 1949 di Nagari Sintuak melalui pendekatan dekonstruksi dan sentuhan digital.
"Randai kali ini menghadirkan visual, musik, dan dramaturgi yang lebih segar kepada khalayak untuk ditonton," jelasnya.
Venny melanjutkan pada pertunjukan otu randai yang merupakan budaya Minangkabau telah diberikan sentuhan lewat pendampingan dekonstruksi dan penataan ulang struktur pertunjukan.
Dengan cara menggabungkan berbagai elemen seni mulai dari tari, musik tradisional Minangkabau, gerak silek (silat), teater, hingga karya lagu yang disusun secara dramatik.
"Penggabungan elemen-elemen ini telah memberikan keunikan sekaligus memperluas fungsi randai, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat pendidikan sejarah, refleksi budaya, dan penguatan identitas komunitas," katanya.
Dalam arti lain Randai Tragedi Perang Sintuak bukan hanya dipertontonkan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk seni inovatif yang mendukung pelestarian, pendidikan, dan ekonomi kreatif.
Sehingga tidak mengherankan kalau Randai tersebut mampu memukau para penonton sekalipun digelar di tengah hujan yang mengguyur Kota Padang.
Penonton memenuhi area pertunjukan dan memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil kolaborasi komunitas Saluak Badeta dan tim pengabdi PISN.
Ketua Komunitas Saluak Badeta selaku penampil yakni Alfandi Memet S Kom menyampaikan bahwa program ini membuka ruang baru bagi seniman muda untuk memperkaya teknik randai.
Serta menyajikannya dengan pendekatan artistik yang lebih kontemporer namun masih berakar pada budaya Minangkabau.
Sutradara Riky Mairizon, S Sn, bersama komposer Doni Syahputra, penari, legaran, aktor, dan pemusik berhasil menyuguhkan pertunjukan yang kuat, emosional, dan penuh energi.
Dalam pelaksanaannya, pertunjukkan juga berkolaborasi dengan berbagai mitra lain seperti Komunitas Payung Sumatera, Fabriek Padang, Biznet, Sewa Baju Tari Padang, Deesphoria, YUCA Studio, Ari Lighting, dan berbagai media yang turut menyukseskan perhelatan budaya tersebut.
Pada bagian lain, Venny Rosalina menjelaskan bahwa pertunjukkan Randai Perang Sintuak itu merupakan hasil pengajuan proposal yang lolos untuk dilaksanakan tahun ini oleh tim dosen pengabdi dari FBS UNP.
Kegiatan diketuai oleh Venny Rosalina S Sn, M Sn, anggota pelaksana Robby Ferdian S Sn, M Sn, Nessya Fitryona S Pd, MSn, serta tim mahasiswa Denny Setiadi, Sania Lopela Sandres, dan Dwi Meidita Putri.
Berbagai rangkaian kegiatan telah dilakukan secara matang mulai dari sosialisasi kepada mitra yaitu Kelompok Seni Pertunjukan di Nagari Sintuak, Padapariaman, Komunitas Saluak Badeta pada tanggal 25 Oktober.
Kemudian dilanjutkan dengan lokakarya (workshop) dramaturgi, koreografi silek dan tari, komposisi musik, tata artistik dan penerapan teknologi yang menjadi pendukung dalam seni pertunjukan randai pada tanggal 1–2 November.
Setelahnya kemudian dilakukan pendampingan proses produksi secara intensif dari tanggal 5-18 November 2025, hingga akhirnya pertunjukkan digelar pada 22 November.
