Logo Header Antaranews Sumbar

Pemerintah daerah bantu kembangkan kopi Solok jadi komoditas unggulan nasional

Minggu, 3 Agustus 2025 13:56 WIB
Image Print
Wakil Bupati (Wabup) Solok Candra saat menggelar diskusi bersama akademisi dan pelaku usaha kopi di Kabupaten Solok, Sumbar. ANTARA/HO-Diskominfo Solok.

Solok (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok, Sumatera Barat (Sumbar), berupaya menjadikan kopi Solok sebagai komoditas unggulan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di tingkat nasional.

Wakil Bupati (Wabup) Solok Candra, di Solok, Minggu, menyampaikan bahwa pemerintah daerah setempat berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan kopi sebagai potensi unggulan yang dapat mendongkrak ekonomi masyarakat setempat.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha untuk pengembangan kopi tersebut.

Menurut Candra, kopi Solok memiliki keunggulan alamiah karena bisa berbuah sepanjang tahun.

Salah satu contohnya adalah usaha yang dijalankan oleh salah seorang petani kopi Solok Abdurrahman, yang menanam kopi di dua hektare kebun kopi mampu meraih pendapatan sekitar Rp27 juta per bulan.

“Ini sudah lebih dari gaji eselon dua. Artinya, kopi bukan hanya komoditas, tapi peluang ekonomi yang bisa menjadi tulang punggung baru bagi masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya pula.

Wabup juga mengapresiasi kapasitas Abdurrahman yang telah bersertifikasi nasional dalam peracikan kopi dan berharap ia dapat membina petani milenial agar ikut bertransformasi menjadi pelaku pertanian yang inovatif.

Di samping itu, Pemkab Solok juga menggelar pertemuan dengan akademisi dan pelaku usaha, yang digelar di Rumah Dinas Wakil Bupati Solok sebagai upaya menjadikan kopi sebagai komoditas unggulan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Akademisi Universitas Andalas (Unand) Dr Makky menekankan pentingnya pendekatan hilirisasi dalam pengembangan kopi.

Menurutnya, riset yang dilakukan universitas harus mampu menjangkau ranah industri dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat.

Menurut dia, potensi kopi Solok sangat tinggi, tapi tantangannya ada pada daya saing. Kalau ingin masuk pasar nasional bahkan global, maka harus disiapkan dari hulu ke hilir mulai dari kualitas budi daya, sertifikasi hingga strategi branding.

Ia juga mencontohkan keberhasilan hilirisasi riset kampus sebelumnya, seperti gambir yang kini digunakan sebagai bahan baku resmi tinta pemilu nasional, menggantikan produk impor.

Dia yakin pendekatan serupa bisa diterapkan pada kopi Solok.

Abdurrahman selaku pelaku usaha turut menegaskan perlunya pendekatan menyeluruh dalam membangun industri kopi. Ia menyoroti pentingnya fase usai panen, roasting, dan peracikan sebagai kunci nilai tambah.

“Kopi bukan sekadar tanaman, tapi produk budaya dan ekonomi. Kita harus dorong petani milenial untuk belajar dan terlibat, karena masa depan kopi ada di tangan mereka,” ujarnya lagi.

Ia berharap pemerintah dan perguruan tinggi terus mendampingi kelompok tani dalam membangun kualitas, jaringan, dan pemasaran.

“Kalau kita jaga kualitas dan perkuat branding, saya yakin kopi Solok akan dikenal dunia,” katanya pula.



Pewarta:
Editor: Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026