Roud up - Berharap habis gelap di Hangzhou, terbitlah terang di Paris

id asian games,hangzhou,round up

Roud up - Berharap habis gelap di Hangzhou, terbitlah terang di Paris

Penampilan gambar digital menyerupai manusia berlari usai mematikan api kaldron pada penutupan Asian Games 2022 di Hangzhou Olympic Sports Centre Stadium, Hangzhou, China, Minggu (8/10/2023). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom.

Jakarta (ANTARA) - Usai sudah hingar-bingar pesta olahraga terbesar se-benua Asia setelah nyala api Asian Games 2022 di kaldron Hangzhou Olympic Sports Centre, China, perlahan meredup hingga akhirnya padam.

Beberapa saat sebelumnya pataka Asian Games diserah terima dari panitia penyelenggara Asian Games ke-19 dan Komite Olimpiade Asia kepada perwakilan Jepang, Gubernur Prefektur Aichi Hideaki Omura dan Wakil Walikota Nagoya Hideo Nakata, yang akan menjadi tuan rumah pesta olahraga empat tahunan itu untuk edisi berikutnya di tahun 2026.

Bagi tuan rumah, Asian Games Hangzhou kian meneguhkan berderet fakta bahwa negeri Tirai Bambu ini kini benar-benar telah membuktikan diri sebagai negara adidaya di era multipolar. Mereka tidak hanya tangguh di bidang diplomasi regional, perekonomian, maupun beragam teknologi paling mutakhir, tetapi juga mumpuni di pentas olahraga.

Terbukti hingga berakhirnya Asian Games kali ini, negara yang dipimpin Xi Jinping ini mendominasi hampir semua cabang olahraga yang dipertandingkan dan jumlah medali yang berhasil dikumpulkan kontingen mereka pun jauh meninggalkan sejumlah saingan yang selama ini dikenal sebagai raksasa-raksasa olahraga Asia, seperti Jepang dan Korsel.

Dua rival terdekat yang menempati posisi runner up dan ketiga di klasemen akhir Asian Games yang sempat tertunda setahun karena pandemi Covid-19 itu terseok-seok mengejar China. Total medali yang diraup dua negara itu jika digabung pun jumlahnya masih kalah dengan yang berhasil dikumpulkan tuan rumah.

Untuk lingkup regional yang lebih kecil Asia Tenggara, Thailand menjadi perwakilan dari negara-negara di kawasan tersebut yang berhasil menembus peringkat 10 besar, yakni di posisi ke-8 setelah meraup total 58 medali dengan perincian 12 emas, 14 perak dan 32 perunggu.

Sementara kontingen Indonesia harus puas pada peringkat 13 setelah hanya mampu mendulang 7 emas, 11 perak dan 18 perunggu. Persis di bawah Indonesia bercokol negeri jiran Malaysia yang mengumpulkan total 32 medali, terdiri dari 6 emas, 8 perak dan 18 perunggu.

Negara-negara ASEAN lainnya juga bernasib sama, terpuruk dengan koleksi medali yang sangat minimalis. Filipina berada di peringkat 17, Singapura (20), Vietnam (21), Myanmar (27), Brunei Darussalam (32), Laos (35), Kamboja (38), dan bahkan Timor Leste tidak mampu meraup satu pun medali.

Bagi Indonesia, posisi di peringkat 13 Asia setelah hanya mampu mendulang 7 emas itu jelas meleset dari target yang telah ditetapkan. Kemenpora sebelumnya mencanangkan target Merah putih di Hangzhou mampu meraih posisi 12 besar dengan 12 medali emas. Sementara Presiden Jokowi justru menuntut capaian yang lebih agresif, yakni mampu menembus 10 besar hasil perjuangan 415 atlet dan 161 ofisial dari 31 cabang olahraga yang diikuti tim Indonesia.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo menyatakan bahwa meskipun telah dilakukan persiapan yang matang dan kerja keras oleh atlet-atlet Indonesia, namun hasil yang diperoleh pada Asian Games 2022 ternyata tidak sesuai dengan harapan. "Saya ingin mengucapkan permohonan maaf pada seluruh masyarakat Indonesia dan Bapak Presiden Republik Indonesia karena target dari beliau 10 besar tidak tercapai," kata Menpora.

Harus diakui bahwa ada banyak faktor yang turut berperan dalam menentukan sukses-tidaknya target terpenuhi dari sebuah cabang olahraga yang dipertandingkan di Hangzhou. Ada target yang meleset, tetapi ada juga kejutan-kejutan yang hadir dari sejumlah arena yang sebelumnya kurang diperhitungkan.

Misalnya saja kejutan dua medali emas dipersembahkan dari cabang olahraga menembak lewat Muhammad Sejahtera Dwi Putra pada nomor 10m running target tunggal putra dan 10m running target beregu campuran. Hal ini menjadi catatan sejarah tersendiri setelah cabang olahraga tersebut sukses mengakhiri puasa medali emas selama 69 tahun sejak menembak pertama kali dilombakan pada Asian Games 1954.

Demikian pula emas-emas lainnya dari cabang wushu, sepeda BMX putri maupun angkat berat, yang masing-masing dipersembahkan Harris Horatius, Amellya Nur Sifa dan Rahmat Erwin Abdullah memecahkan rekor dunia 201kg angkatan clean and jerk kelas 73kg putra menjadi sepenggal kisah manis di pentas Asian Games kali ini.

Sementara itu catatan kelam yang berkontribusi signifikan atas melesetnya target terekam dari cabang-cabang olahraga unggulan Merah Putih, seperti panjat tebing dan bulu tangkis.

Dari arena panjat tebing di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, atlet-atlet Indonesia yang sejatinya telah malang-melintang di berbagai kejuaraan level dunia dan bahkan memegang rekor dunia seperti Veddriq Leonardo dan Kiromal Katibin, harus merelakan kehilangan setidaknya tiga peluang medali emas dari adu cepat memanjat setinggi 15m itu.

Setali tiga uang dengan panjat tebing, cabang unggulan bulu tangkis yang banyak diharapkan menyumbang setidaknya tiga medali emas ternyata gagal total setelah tidak ada satu pun jago Indonesia yang berhasil menembus semifinal. Hangzhou menjadi catatan terburuk bulu tangkis Indonesia karena untuk pertama kalinya dalam sejarah Asian Games, Indonesia gagal meraih satu pun medali dari tujuh nomor yang dipertandingkan, baik beregu maupun perorangan.

Indonesia selama ini dipandang sebagai salah satu negara papan atas untuk cabang olahraga bulu tangkis. Karenanya kegagalan mendulang medali dari pentas Asian Games kali ini menjadi momentum berharga untuk melakukan evaluasi demi peningkatan prestasi dan integritas olahraga bulu tangkis itu sendiri di kancah internasional berikutnya.

Secara umum, mengutip apa yang dikatakan Menpora Dito, tidak tercapainya target prestasi tersebut menjadi momen introspeksi yang penting bagi dunia olahraga Indonesia. Dia berharap agar kekecewaan atas hasil saat ini justru menjadi motivasi untuk meningkatkan prestasi dan kualitas persiapan atlet-atlet Indonesia pada masa-masa mendatang.

Apalagi tidak berselang lama akan digelar ajang olahraga multi-cabang yang skalanya lebih besar dari Asian Games Hangzhou, yakni Olimpiade Paris tahun 2024 mendatang.

"Kita akan mengevaluasi total seluruh cabang olahraga yang ikut di Asian Games dan akan kita analisis bagi yang meleset dari target. Ini sekiranya kita duduk bersama dan kita cari solusinya apa yang terbaik," ujar Dito.

Habis gelap di Asian Games Hangzhou, terbitlah terang di Olimpiade Paris. Semoga...

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Round up - Berharap habis gelap di Hangzhou, terbitlah terang di Paris