Nuklir yang memiliki manfaat bagi kesehatan

id kesehatan,batan,nuklir, pandemi

Nuklir yang memiliki manfaat bagi kesehatan

Lemari UV-C disinfektan buatan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). (FOTO ANTARA/HO-Batan)

Jakarta (ANTARA) - Sebagian besar masyarakat masih mengangap nuklir sebagai sesuatu yang membawa "petaka". Padahal nuklir lebih banyak membawa manfaat bagi umat manusia terutama di bidang kesehatan.

Termasuk saat pandemi COVID-19, pemerintah melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) turut berkontribusi dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Salah satunya dengan menciptakan alat sterilisasi dengan memanfaatkan teknologi sinar ultraviolet C atau UV-C.

Kepala Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir BATAN, Kristedjo Kurnianto, mengatakan inovasi yang dilakukan oleh BATAN adalah mobile UV-C Disinfektan yang dapat bergerak ke segala arah untuk membasmi virus.

"Robot ini bertugas untuk mensterilkan ruangan dari berbagai virus dan bakteri. Robot ini dapat menjangkau berbagai tempat di ruangan secara fleksibel dan aman karena digerakkan dengan remote control," ujar Kristedjo.

Selain robot pembasmi virus tersebut, BATAN juga menciptakan lemari UV-C disinfektan untuk mensterilkan barang- barang yang terkontaminasi virus atau bakteri seperti alat kesehatan, dan alat pelindung diri (APD) kesehatan.

Kedua alat ini menggunakan lampu UV yang memiliki panjang gelombang dari 200 – 280 nanometer yang termasuk dalam kelompok UV-C.

Radiasi matahari

Selama ini, UV-C di alam berasal dari radiasi matahari dan tidak sampai ke permukaan bumi karena terserap oleh atmosfer bumi. UV-C juga sering disebut dengan UV Germicidal karena memiliki sifat yang dapat membunuh dan menghentikan replikasi mikroorganisme termasuk virus dengan mekanisme merusak DNA/RNA makhluk hidup dan virus dengan derajat kehidupan yang sederhana.

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa UV-C efektif membasmi mold (kapang/jamur), bakteri, dan virus.

Dia juga menjelaskan bahwa sinar itu terbukti efektif menghancurkan virus bawaan dari udara atau airborne seperti influenza dan virus SARS. Kedua virus itu serumpun dengan COVID-19.

"Daya tembus UV-C sangat rendah sehingga efektif untuk sterilisasi udara dan permukaan benda, namun memiliki daya rusak tinggi," terang dia.

Sinar UV-C dapat membahayakan manusia apabila terpapar langsung dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, pengoperasian alat itu harus memperhatikan faktor keselamatan bagi operatornya.

Cara kerja kedua alat itu menghasilkan UV-C dengan intensitas yang sangat tinggi yakni 240 Watt untuk Robot UV-C Disinfektan dan 210 Watt untuk lemari UV-C Disinfektan. Sinar UV-C yang terpancar nantinya akan menghancurkan mikroba dan virus secara langsung dengan merusak DNA dan RNA melalui induksi transformasi molekuler.

“Untuk lemari UV-C Disinfektan yang tertutup, selain dari sinar UV, juga ada mekanisme pembasmian mikroba dan virus lain yaitu dengan gas ozon yang terbentuk selama penyinaran UV-C. Gas ozon yang terbentuk sangat reaktif membunuh mikroba dan virus,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian, sebanyak 99 persen virus telah rusak atau hancur setelah terpapar ozon selama 30 detik. Ozon menghancurkan virus dengan menyebar melalui mantel protein ke dalam inti asam nukleat yang mengakibatkan kerusakan RNA virus.

Uniknya, lemari disinfektan dilengkapi blower yang secara otomatis mengosongkan gas ozon dari ruang desinfektan disinfektan setelah selesai proses penyinaran. Hal itu dilakukan untuk alasan keselamatan operator, mengingat kadar ozon yang terlalu tinggi juga membahayakan manusia.

Kepala BATAN, Prof Ir Anhar Riza Antariksawan, mengatakan selain turut berkontribusi dalam inovasi alat strelisasi, BATAN juga turut terlibat dalam proses pembuatan vaksin Merah Putih.

Anhar menjelaskan BATAN mengembangkan antiserum untuk melemahkan atau mensterilkan virus dengan menggunakan iradiasi gamma. Hal itu berguna untuk pembuatan vaksin.

"Iradiasi gamma dilakukan untuk mensterilisasi serum atau plasma konvaselen dan antiserumImmunoglobulin Y (IgY) untuk penanganan COVID-19," ucap Anhar.

Kandidat vaksin yang siap ditaruh diraditor untuk disinari gamma. Penyinaran untuk mengetahui sejauh mana iradiasi mampu melemahkan virus. Serum atau plasma konvaselen dan antiserum IgY tersebut bermanfaat sebagai imunisasi pasif pasien positif COVID-19.

"Kita optimalisasi dosis sinar gamma yang efektif untuk menonaktifkan virus tanpa mempengaruhi komponen antigennya," katanya.

BATAN terlibat dalam pengembangan vaksin Merah Putih dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman tersebut.

Terapi kanker

Selain ikut berkontribusi dalam penanganan pandemi COVID-19, BATAN juga mempunyai tugas melakukan penelitian, pengembangan, dan pendayagunaan iptek nuklir mendapatkan penugasan dari pemerintah menjadi koordinator untuk tiga prioritas nasional (PRN) selama 2020 - 2024.

Salah satu dari ketiga PRN tersebut adalah pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka yang bekerja sama dengan PT Kimia Farma, LIPI, BPPT, Badan POM, Bapeten dan Universitas Padjadjaran.

Anhar menjelaskan selama ini kebutuhan radioisotop dan radiofarmaka di dalam negeri dipasok oleh produk impor yang mencapai hingga di atas 90 persen.

"BATAN melalui Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR), mengembangkan produksi radioisotop dan radiofarmaka untuk penanganan penyakit kanker baik untuk diagnosis maupun terapi yang banyak dibutuhkan di dalam negeri," ujar dia.

Terdapat lima produk radioisotop dan radiofarmaka yang akan ditargetkan selama kurun waktu 2020 – 2024 yakni, Generator Mo-99/Tc-99m menggunakan Mo-99 non fisi, radiofarmaka berbasis PSMA (prostate specific membrane antigen), Kit radiofarmaka Nanokoloid HAS, Kit radiofarmaka EDTMP merupakan generasi baru radiofarmaka untuk terapi paliatif kanker tulang, dan Contrast agent berbasis gadolinium untuk MRI contrast agent.

Kepala BATAN menjelaskan radioisotop Tc-99m banyak digunakan untuk diagnosis kanker. Radioisotop Tc-99m ini dapat digunakan pula untuk diagnosis jantung dan ginjal. Sementara, radiofarmaka Nanokoloid HAS digunakan untuk diagnosis dan terapi kanker prostat. Lu-177-PSMA digunakan untuk terapi, namun hasil pencitraan sebaran radiofarmaka tersebut di dalam tubuh dapat digunakan pula untuk mengetahui status terakhir sebaran kanker yang ada di dalam tubuh.

Kit radiofarmaka Nanokoloid HAS, digunakan untuk diagnosis sebaran kanker ke kelenjar limfa (limfoscintigrafi), khususnya sebaran dari kanker payudara. Sedangkan, Contrast agent berbasis gadolinium untuk MRI contrast agent. Radioisotop/tradiotracer digunakan pada saat pengembangan, produk akhir tidak mengandung radioisotop.

Peneliti Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN, Herlan Setiawan, mengatakan teknologi nuklir telah dimanfaatkan di bidang kesehatan dan sudah dirasakan manfaatnya oleh penyintas kanker.

Keuntungan dari radioisotop yaitu sebagai radiotracer atau perunut dalam menemukan lokasi yang terjangkiti oleh penyakit kanker. Selain itu, radioisotop juga dapat digunakan untuk pengembangan pembuatan obat.

Radioisotop terbentuk dari dua cara yakni secara alami dan buatan. Radioisotop buatan dapat diproduksi menggunakan reaktor nuklir maupun akselerator.

Penggunaan radiotracer di bidang kesehatan atau kedokteran memiliki syarat yang lebih khusus, karena penggunaannya untuk disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Selain itu, radiasi yang digunakan dibatasi dengan jenis alat deteksi yang akan digunakan, yaitu SPECT untuk radiotracer pemancar gamma dan PET untuk radiotracer pemancar positron.

Aplikasi perunut radioaktif ini sangat bermanfaat untuk deteksi dini penyakit tidak menular, salah satunya penyakit kanker.

Radiotracer juga dapat digunakan untuk pengembangan obat, salah satunya pengobatan di bidang herbal.

Masihkah khawatir dengan nuklir sementara manfaatnya sangat banyak bagi kesehatan. *
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar