Logo Header Antaranews Sumbar

Desakan Berantas Premanisme Kian Menguat

Minggu, 28 April 2013 17:36 WIB
Image Print

Depok, (Antara) - Desakan masyarakat yang sudah lama merasa terganggu dan ketakutan, agar pihak berwenang memberantas aksi-aksi premanisme yang kian merajalela di negeri ini, makin menguat. Menguatnya desakan tersebut terutama setelah kelompok Hercules ditangkap pihak berwajib dan "dieksekusinya" empat preman yang sedang mendekam di lapas Cebongan di Sleman. Semangat antipremanisme bukan hanya menggelora di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saja, di kota Surakartapun sejumlah spanduk dan baliho mengkampanyekan pemberantasan perilaku dan aksi premanisme. Bahkan di Jakarta secara berkesinambungan Polda Metro Jaya melakukan operasi penangkapan dan pembinaan. Sekitar 10 pekerja tampak merapikan lima bangunan ruko di sebuah proyek di Srengseng, Jakarta Barat. Pekerjaan itu mereka lakoni sehari-hari. Hanya saja, sudah sekitar tiga hari lokasi tersebut dijaga pasukan Brimob bersenjata laras panjang. "Kerja malah lebih tenang, lebih aman," kata seorang pekerja, sebut saja Djono. Menurut dia, proyek pembangunan ruko sudah berlangsung sejak 2012. Selama itu pula pekerja di sana terpaksa harus membiasakan diri dengan preman yang sering mampir. "Paling takut sama anak buah Hercules yang lagi mabuk. Para pekerja kerap dipalak, itulah sebabnya pekerja jarang betah bekerja di proyek ini." Kini para pekerja di sana merasa sangat terbantu dengan keberadaan pasukan Brimob. "Sejak ditangkap awal Maret, belum ada lagi preman yang datang ke sini. Pengerjaan ruko yang tinggal penyelesaian dikebut mumpung keadaan aman," ujar Djono. Menurut Kapolres Jakarta Barat Kombes Suntana, pasukan Brimob akan berjaga hingga keadaan dinilai aman. Hercules dan 46 anggota kelompoknya ditangkap setelah merusak kaca-kaca ruko pada saat polisi menggelar apel di pelataran ruko. "Daerah itu memang termasuk rawan pemerasan dan premanisme, termasuk Srengseng, Kebon Jeruk, dan Cengkareng," kata Kasatserse Kriminal Polres Jakbar, AKP Hengki Haryadi. Kalangan kriminolog menilai premanisme di Jakarta masih cukup mengkhawatirkan meskipun dua orang pentolannya John Kei dan Hercules - sudah ditangkap. "Ada regenerasi di dalam tubuh kelompok preman," kata kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala. Adrianus menyebutkan, dalam dunia preman hukum yang dipakai adalah "under world". Artinya, seperti lingkaran setan akan terus ada selama masih ada kelompok-kelompoknya. Penangkapan kelompok Hercules menurut dia hanya elemen kecil dari dunia preman. Sementara itu kriminolog Ade Erlangga Masdiana berpendapat, kelompok John Kei maupun Hercules ibarat puncak gunung es. "Mereka yang kelihatan, padahal masih ada yang kecil-kecil, Justru mereka inilah bahaya laten, mengakar di berbagai kalangan masyarakat. Polisi jangan luput untuk memberantas yang kecil-kecil ini." Kriminolog lainnya, Muhammad Mustofa mengingatkan aparat yang berwenang agar jangan sampai penangkapan Hercules hanya sekedar terapi kejut bagi para preman. "Mungkin sebentar mereka akan tiarap, tapi segera bisa muncul lagi," katanya. Terkait dengan kasus Cebongan, Kapolda DIY Brigjen Pol Haka Astana mengisyaratkan konsistensi terhadap pemberantasan premanisme. Dia berjanji siap mengembalikan kepercayaan bahwa Yogyakarta aman. Sebagai langkah awal, dia memerintahkan para Kasatwil meningkatkan kegiatan yang bersifat dialogis dengan masyarakat. Aksi premanisme memang telah merasuki perorangan dan kelompok di kota-kota besar karena beragam alasan dan latar belakang, antara lain tidak tersedianya lapangan kerja yang memadai bagi mereka yang berpendidikan rendah serta terjadinya 'toleransi' aparat atas perilaku mereka hingga batas tertentu. Di banyak kota besar aksi premanisme itu terkesan terorganisir dan beranggotakan warga etnis tertentu. Tentu masyarakat berharap, tindak pemberantasan premanisme di wilayah kerja Polda DIY misalnya, tidak hanya bersifat formal yang cenderung berorientasi pada pola tindakan operasional. Perlu juga diperhatikan dan dikaji mengapa perorangan atau kelompok perorangan termasuk warga etnis tertentu sampai jatuh pada perilaku yang mengedepankan kekerasan. Agar terus digencarkan Menguatnya suara-suara yang mendukung pemberantasan premanisme, sebenarnya tidak semata-mata lantaran terpicu oleh tragedi Cebongan, karena penusukan yang menewaskan anggota Kopassus di Hugo's Cafe juga hanya momentum yang menambah kegelisahan masyarakat terhadap masalah ini. Kepastian dan jaminan penegakan hukumlah yang sesungguhnya ditunggu. Simak beredarnya pesan pendek, juga spanduk-spanduk di beberapa sudut Yogyakarta "Sejuta Preman Mati, Rakyat Yogya Tidak Rugi", yang bisa saja memuat dua kemungkinan pesan. Pertama, ungkapan aspirasi agar aparat kepolisian lebih tegas menangani preman. Kedua, entah dari kelompok mana, sebagai semacam kampanye untuk menciptakan kesan "heroik". Juga puluhan pengemudi becak yang tergabung dalam Komunitas Becak Jogja Anti-Premanisme yang menggelar aksi demo di kota itu. Mereka meminta aparat dan Wali Kota Yogyakarta untuk memberantas premanisme. Menurut koordinator aksi, Suwignyo Ngadino, seharian komunitas becak Malioboro, Stasiun Tugu dan sekitarnya tidak menarik atau cari penumpang. Mereka berkeliling sambil membawa poster bertuliskan 'Monggo Wali Kota Yogya tumpas premanisme', 'Premanisme bikin sengsara rakyat'. Selain komunitas pengemudi becak, aksi juga diikuti paguyuban PKL yang biasa mangkal di Malioboro hingga Pasar Beringharjo. Aksi juga diikuti oleh Masyarakat Yogya Anti-Anarkis dan berbagai komunitas lainnya. Untuk memeriahkan aksi, massa mengajak komunitas kesenian kuda lumping Tresno Mataram. Di wilayah Balikpapan Utara pemberantasan preman terus digencarkan dengan razia penyakit masyarakat (Pekat) dan razia unit kecil lengkap (UKL). Setiap malam dilakukan operasi pekat dan UKL, tak hanya menjaring para preman, juga berbagai kasus seperti mabuk-mabukan, ngelem dan berbagai pelanggaran lainnya. "Banyak yang terjaring dalam operasi yang terus kami gencarkan ini, lalu kami amankan dan dikenakan sanksi hukum jika terbukti melakukan tindak pidana, diberi pembinaan dan pembinaan serta diinapkan semalam di Polsek," kata Kapolsek Balikpapan Kompol Putu Rideng. Sementara itu, Kapolda Jawa Barat, Irjen Tubagus Anis Angkawijaya menegaskan seluruh bentuk aksi premanisme yang ada di wilayah hukumnya diberantas hingga akarnya untuk menciptakan rasa aman. "Kami sudah melakukan pemberantasan serta menugaskan seluruh jajaran mulai dari polsek hingga polda agar terus memberantas aksi premanisme," katanya. Dari hasil penyelidikan, katanya, ada tiga tingkat preman, pertama preman perseorangan yang aksinya dilakukan di parkiran maupun tempat umum lainnya. Kedua, preman berkelompok yang biasanya mengendalikan suatu tempat seperti lahan parkir dan fasilitas lainnya dengan cara berkelompok seperti memalak. Ketiga, preman di tingkat paling atas yaitu sekumpulan preman dari beberapa kelompok yang melakukan aksinya secara teroganisir seperti menjadi bodyguard atau kegiatannya mengendalikan suatu daerah yang menjadi lahan pemasukan keuangannya. "Kami tidak segan memberikan sanksi tegas kepada para preman dari berbagai tingkat tersebut apalagi sampai meresahkan masyarakat bahkan jika sudah mengganggu keselamatan jiwa orang lain kami intruksikan agar diambil tindakan lebih tegas lagi seperti tembak di tempat sesuai dengan prosedur tahapan (protap)," ujarnya. Namun dia juga mengakui, memberantas preman tidak bisa dilakukan oleh kepolisian saja tetapi perlu ada kerja sama dari berbagai elemen masyarakat. Karena terjadinya aksi premanisme ini disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi yang utama adalah kesulitan ekonomi. Penggencaran upaya pemberantasan premanisme, menurut kriminolog Adrianus Meliala selalu hak asasi manusia (HAM). Pelaku kriminal kerap kali bersembunyi di balik HAM. "Inilah susahnya ketika hukum tunduk pada HAM, karenanya, hukum tidak bisa sewenang-wenang," katanya. Sulitnya penegakan hukum karena terkait HAM, menjadikan Hercules atau kriminal lainnya merasa aman. Pentolan preman ini juga dianggap tahu bagaimana menghalangi penindakan. "Makanya menjadi tepat ketika Hercules menyerang polisi, langsung ditangkap saat ada bukti dan saksi," kata dia. Seperti kata kriminolog ini, ada langkah yang harus dilakukan polisi yaitu menutup perputaran premanisme. Setelah John Kei ditangkap, Hercules merasa tidak tertandingi. Sekarang Hercules tertangkap. Roda perputaran tersebut jangan sampai terisi oleh preman lainnya. (*/wij)



Pewarta:
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026