
Dishutbun: Pembalakan Hutan di Solok Selatan Menurun

Padang Aro, (ANTARA) - Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Solok Selatan Tri Handoyo Gunardi mengatakan aksi pembalakan hutan di daerah ini sejak lepas dari Kabupaten Solok dan menjadi daerah yang berdiri sendiri terus mengalami penurunan. "Sebelum pemekaran, aksi pembalakan hutan di Solok Selatan cukup marak disebabkan kurangnya pengawasan, tetapi sekarang sudah mengalami penurunan dan berkurang cukup signifikan," katanya di Padang Aro, Selasa. Sebagai contoh katanya, ketika Solok Selatan masih berada dalam kawasan Kabupaten Solok dan otonomi daerah belum berlaku, pembalakan liar di daerah itu tidak terbendung dan sulit diberantas. Tetapi setelah ada otonomi daerah yang awalnya memang masih marak pembalakan liar tetapi sekarang sudah bisa dikendalikan. "Memang masih ada pembalakan liar tetapi jumlahnya sudah jauh menurun dan tidak mungkin juga petugas bisa mengawasi hutan secara keseluruhan," katanya. Untuk Solok Selatan sendiri 73 persen kawasannya masih hutan dan sisinya baru untuk areal penggunaan lain. Karena keterbatasan petugas dalam pengawasan hutan, ia mengimbau masyarakat yang berbatasan langsung dengan hutan supaya bersama-sama melakukan pengawasan dan tidak merambah hutan. "Jika ditemukan pelanggaran oleh oknum tertentu segera laporkan kepada petugas untuk ditindak sesuai peraturan perundang-undangan," katanya. Tetapi bagi hutan yang sudah terlanjur ditebang dia mengimbau supaya masyarakat melakukan penghijauan dengan tumbuhan yang bermanfaat seperti kopi, coklat dan jenis kayu-kayuan. "Dengan begitu katanya kawasan hutan tetap terjaga dan juga bisa menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar," jelasnya. Ia menyebutkan, untuk kawasan perkebunan di daerah itu sudah mempunyai izin yang lengkap. Ia menambahkan, untuk mengeluarkan izin pembukaan baru kawasan hutan tetap oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia. "Sedangkan Pemerintahan Kabupaten hanya bisa mengeluarkan izin terhadap kawasan hak pengguna lain (HPL) yang tidak lagi berhutan," tambahnya. (rik)
Pewarta: Inter
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
