Moeldoko bawa angin segar untuk petani Dharmasraya, lahan potensial

id Pertanian, dharmasraya, sutan riska moeldoko, hkti, sumatera barat, padang

Moeldoko bawa angin segar untuk petani Dharmasraya, lahan potensial

Ketua HKTI Moeldoko memberi arahan kepada gabungan kelompok tani di Dharmasraya. (Antara)

Pulau Punjung (ANTARA) - Ketua Himpunan Kontak Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko membawa angin segar untuk petani di Kabupaten Dharmasraya, karena pihaknya akan mendorong sektor pertanian daerah itu.

"Dharmasraya memiliki lahan ada sekitar 7.000 hektare bisa dikembangkan padi dan jagung. Luas itu cukup potensial," kata Ketua Staf Presiden Moeldoko di Pulau Punjung, Senin.

Ia menyatakan, sebagai ketua HKTI dirinya berjanji akan terus secara lantang menyuarakan dan memperjuangan kepentingan petani.

Jadi, bila di Dharmasraya lahan tersedia cukup potensial dan kondisi tanah masih relatif baik dibandingkan dengan di pulau Jawa.

Sebab, di Jawa lahan terbatas dan kondisi kian rusak akibat penggunaan partisida secara berlebihan yang tentu berdampak terhadap produktivitas.

Kemudian Dharmasraya memiliki saluran irigasi yang sumber air sawah petani akan selalu tersedia.

Menurut mantan Panglima TNI itu, selama ini petani dihadapkan dengan beberapa persoalan dalam meraih kesejahteraan di sektor ini.

Selain peroalan kondisi tanah yang rusak, juga terbatas dalam menguasai teknologi tepat guna dan permodalan. Berikut termasuk berkaitan dengah manajemen pasca panen.

Dalam kesempatan pertemuan dengan perwakilan kelompok tani di Dharmasaraya itu, Moeldoko mengungkapkan bahwa pengembangan sektor pertanian butuh teknologi.

Selain itu, masih kurangnya petani dalam manajemen pra maupun pasca panen sehingga mendapatkan hasil tidak sesuai harapan.

"Petani jarang menghitung tenaga pengelolaan dan ketika panen hasil didapat hanya menutupi beban produksi saja," ujarnya.

Kemudian penanganan pasca panen ada dua yang mesti jadi perhatian petani, pertama, panen padi kalau tidak menggunakan mesin itu lostnya bisa 10 persen.

Namun, sebaliknya bila menggunakan mesin hanya sekitar 2,5 -3 persen sehingga tidak berdampak banyak kerugian dialami petani.

Pasca panen petani dihadapkan persoalan harga yang harus dikendalikan oleh pemerintah.

Soal harga, kata dia, pihaknya akan menyuarakan kepada pemerintah dan dalam hal ini akan disampaikan pada kementerian terkait.

Dalam kesempatan itu Moeldoko juga memperkenalkan teknologi tanaman padi yang sudah dikembangkandi beberapa wilayah yang ada di Indonesia, di antaranya di Marotai.

Menurutnya, sangat cocok bila petani Dharmasraya bisa mengikuti pola yang diterapkan dan hasilnya bisa memperbaiki kehidupan masyarakat tani.

Ke depan, ia berharap Dharmasraya bisa punya merek beras khas daerah sendiri.
Peserta gabungan kelompok tani di Dharmasraya. (Antara)
Pewarta :
Editor: Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar