Pengembangan wisata di Payakumbuh belum berdampak terhadap bisnis perhotelan

id payakumbuh,wisata,hotel,phri

General Manager Hotel Mangkuto, Muhammad Hendra (sumbar.antaranews.com/Syafri Ario)

Payakumbuh, (Antaranews Sumbar) - Pembenahan sejumlah objek wisata di kawasan Luak Limapuluh yang meliputi Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, belum memberikan kontribusi terhadap usaha perhotelan di Payakumbuh.

“Okupansi hotel kita (Hotel Mangkuto) dari tahun ke tahun 40 sampai 60 persen dan itu okupansi yang tertinggi di kawasan Luak Limopuluh dibanding penginapan lain," ujar General Manager Hotel Mangkuto, Muhammad Hendra, di Payakumbuh Senin.

Ia mengatakan meskipun banyak pengembangan objek wisata namun hingga kini belum ada hotel berbintang di Payakumbuh. "Hotel Mangkuto sendiri yang terbesar di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh masih hotel melati," ujarnya.

Dia juga mengeluhkan tidak adanya kerja sama pemerintah dengan pihak hotel untuk meningkatkan okupansi hotel di Payakumbuh.

"Pembinaan dari Pemkot Payakumbuh terhadap pihak-pihak hotel tidak misalnya pembicaraan kalender ivent tahunan," ungkapnya.

Selain itu Hendra juga menyayangkan tidak aktifnya organisasi Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) di Payakumbuh.

"Dulu ada ketuanya yang punya hotel Bambu setelah bapak itu meninggal hingga kini PHRI tak jalan lagi," ujarnya.

Hendra mengatakan padahal Kawasan Luak Limapuluh sangat potensial sebagai daerah perlintasan antara Pekanbaru, Bukittinggi dan Padang.

"Tamu yang datang ke Hotel Mangkuto saja sebagian besar berasal dari wisatawan ke Bukittinggi dan tamu hotel di Bukittinggi yang kita tampung karena disana penuh," kata Hendra. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar