Logo Header Antaranews Sumbar

Pemerintah siap rehabilitasi rumah korban gempa yang rusak di Sulteng

Rabu, 3 Oktober 2018 11:23 WIB
Image Print
Sejumlah bangunan ambruk akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). ANTARA FOTO/BNPB/pras/18.

Jakarta (Antaranews Sumbar) - Pemerintah menyatakan siap untuk membangun fasilitas serta merehabilitasi dan merekonstruksi rumah korban gempa yang rusak akibat likuifikasi (pergerakan tanah) dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam rilis, Rabu, mengatakan untuk kondisi gempa di Palu dan Donggala relatif berbeda dengan rumah rusak akibat gempa bumi dimana masih banyak material yang bisa digunakan kembali dan dibangun oleh masyarakat dibantu Pemerintah.

Sementara material rumah rusak akibat likuifaksi (pergerakan tanah) dan tsunami sudah hancur dan sudah hilang semuanya sehingga rekonstruksinya akan dikerjakan oleh Pemerintah.

Selain itu, Menteri Basuki mengatakan jatuhnya korban jiwa tidak hanya diakibatkan oleh gempa bumi dan tsunami namun juga kejadian likuifikasi atau pergerakan tanah yang terjadi di Petobo dan Balaroa.

"Alat berat kami sudah masuk yakni enam unit di Petobo dan empat unit di Balaroa termasuk 1 excavator dengan stone breaker dan akan kita tambah lagi mengingat luasnya wilayah terdampak. Diperkirakan banyak korban jiwa akibat likuifaksi," jelasnya.

Ada satu unit loader di Balaroa, empat unit dump truck yang ditempatkan dua unit di Petobo dan dua unit di Balaroa, dengan tambahan dua excavator dari Makassar.

Proses pembersihan kota dilakukan menggunakan alat berat dengan fokus utama selain di Balaroa, Petobo, runtuhan hotel-hotel dan Pantai Talise.

Kementerian PUPR dengan memobilisasi tiga unit excavator, lima loader, empat dump truck, satu grader, termasuk di Loli (Ruas Palu-Donggala).

Ditargetkan pembersihan kota akan selesai dalam waktu dua minggu atau pertengahan Oktober 2018.

Sebagaimana diwartakan, Kementerian PUPR meminta para kontraktor membantu penyediaaan alat berat dalam rangka penanganan dampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

"Untuk evakuasi ada beberapa daerah yang belum bisa diangkat mayat korban dan butuh bantuan peralatan berat," kata Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarief Burhanuddin dalam acara Seminar Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) di Jakarta, Selasa (2/10).

Menurut Sjarief, saat ini baru ada sejumlah kontraktor seperti Adhikarya, Bumi Karsa dan beberapa kontraktor lainnya yang dapat menyediakan sejumlah alat berat untuk evakuasi dalam pencarian korban di antara reruntuhan akibat gempa dan tsunami yang melanda daerah tersebut. (*)

Baca juga: BNPB butuh 2.000 tenda untuk pengungsi gempa Sulteng
Baca juga: Berdasarkan citra satelit lebih 5.000 bangunan di Palu dan Donggala rusak



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026