Pesta Tabuik memasuki proses maambiak batang pisang

id Tabuik piaman

Tokoh Tabuik Subarang menebas batang pisang saat prosesi "Maambiak Batang Pisang". (Antara Sumbar/Muhammad Zulfikar) (-)

Pariaman, (Antaranews Sumbar) - Prosesi "Maambiak Batang Pisang" dalam Pesta Budaya Tabuik yang dihelat oleh Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat melambangkan kesadisan Raja Yazid Bin Muawiyah pada perang karbala.

"Batang pisang tersebut diibaratkan sebagai tentara atau pasukan Raja Yazid yang kejam saat memancung cucu Nabi Muhammad SAW Imam Husein pada perang karbala," kata Ketua Pelaksana Tabuik Subarang, Husni Thamrin di Pariaman, Sabtu.

Ia mengatakan prosesi maambiak batang pisang merupakan rangkaian ritual kedua setelah prosesi "Maambiak Tanah" yang dilaksanakan pada satu muharram.

Pada prosesi maambiak batang pisang tersebut, tuo tabuik atau tokoh tabuik memancung tiga batang pisang dan tiga batang tebu yang diibaratkan sebagai pasukan tentara Raja Yazid.

"Jadi batang pisang dan tebu tersebut hanya sebagai pengumpamaan bagaimana kejam dan sadisnya perbuatan tentara Raja Yazid Bin Muawiyah dalam menghabisi nyawa cucu Nabi Muhammad SAW," katanya.

Setelah dipancung batang pisang tersebut akan dikubur di samping pusara yang diibaratkan sebagai makam Husein cucu Nabi Muhammad SAW.

Prosesi tersebut dianggap sakral oleh masyarakat setempat karena sudah menjadi kebudayaan dalam meramaikan pesta budaya tabuik setiap tahunnya.

Arak-arakan prosesi maambiak batang pisang dimulai dari Terminal Lama Desa Kampung Pondok menuju lokasi utama yang berada di Kelurahan Lohong Kecamatan Pariaman Tengah dengan diiringi alunan gendang tassa alat musik masyarakat setempat.

Salah seorang tokoh Tabuik Subarang Nasrun Jon mengatakan prosesi maambiak batang pisang dilakukan pada lima muharram di dua lokasi berbeda.

"Lokasi maambiak batang pisang Tabuik Subarang berada di Kelurahan Lohong, sementara Tabuik Pasa melaksanakannya di Desa Alai Galombang," katanya.

Sebelum melaksanakan prosesi tersebut ujar dia, para tuo tabuik terlebih dahulu membacakan doa keselamatan agar terhindar dari bahaya dengan menggunakan pedang khusus yang bernama Jarnawi.

Terpisah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman, Elfis Candra mengatakan pesta budaya tabuik merupakan perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura, gugurnya Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, yang dilakukan oleh masyarakat di Kota Pariaman.

Pesta Budaya Tabuik tersebut juga menampilkan kembali pertempuran Karbala, dan memainkan gendang tassa. Tabuik merupakan istilah untuk usungan jenazah yang dibawa selama prosesi upacara tersebut.

Kegiatan tersebut dilakukan juga untuk menarik para wisatawan dari berbagai daerah ke Kota Pariaman.*

Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar