Diserang hama tikus, produksi gabah Kecamatan Guguak Limapuluh Kota turun 50 persen

id petani panen padi

Petani memanen padinya di daerah Kecamatan Guguak Kabupaten Limapuluh Kota. (Antara Sumbar/Novia Harlina)

Ke depan kami akan mengganti tanaman padi dengan palawija terlebih dahulu
Sarilamak, (Antaranews Sumbar) - Produksi gabah di Kecamatan Guguak Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat turun sekitar 50 persen akibat serangan hama tikus.

"Padi kami di sini diserang hama tikus, ketika panen, padi yang bagus hanya tersisa di bagian pinggir sawah," kata salah seorang petani di daerah Kecamatan Guguak, Risman (65), Kamis.

Turunnya produksi padi di daerah itu juga berdampak pada naiknya harga gabah di tingkat petani, dari sebelumnya sekitar Rp5.600 menjadi Rp6.300 per kilogram sejak tiga hari terakhir.

Menurutnya selama ini harga gabah jarang yang mencapai Rp6.000 per kilogram, namun saat ini sudah melebihi angka tersebut.

Meskipun harga gabah naik, lanjutnya petani tetap mengalami kerugian karena produksi yang turun cukup signifikan.

Saat panen padi yang masih bagus hanya tersisa dibagian pinggir sawah, sedangkan padi di bagian tengah dimakan oleh tikus.

"Ke depan kami akan mengganti tanaman padi dengan palawija terlebih dahulu," ujarnya.

Sebelumnya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menargetkan produksi padi sebesar 2,75 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada 2018.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan setempat, Candra mengatakan untuk mencapai target produksi tersebut dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.

Ia menjelaskan intensifikasi adalah pengolahan lahan pertanian dalam rangka meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana sedangkan ekstensifikasi adalah perluasan areal pertanian yang sebelumnya terbengkalai dan tidak dimanfaatkan dengan baik.

Proses intensifikasi di Sumbar dilaksanakan melalui penerapan teknologi produksi seperti teknik tanam jajar legowo yang bisa meningkatkan produksi mulai dari sepuluh hingga 15 persen. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar