
Wagub Perintahkan Kabupaten/Kota Bentuk Satgas Pariwisata
Jumat, 15 April 2016 15:50 WIB

Padang, (Antara) - Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Nasrul Abit memerintahkan pemerintah kabupaten dan kota membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pariwisata untuk memberantas aksi pungutan liar, pemerasan hingga pemalakan kepada wisatawan yang datang.
"Bupati dan Wali Kota tolong buat Satgas Pemberantasan Perilaku Premanisme di kawasan objek wisata, saya beri waktu sampai Juli 2016 sudah harus tuntas," kata Nasrul di Padang, Jumat.
Ia menyampaikan hal itu pada fokus grup diskusi penyempurnaan dan sinkronisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021 sektor pariwisata yang dihadiri pemangku kepentingan serta penggiat pariwisata.
Menurut Nasrul pada tingkat provinsi juga akan dibentuk satgas yang siap menerima semua keluhan terkait pariwisata selama 24 jam.
"Kalau ada keluhan masuk ke satgas provinsi, kami akan telpon satgas kabupaten dan kota, jika tidak dipedulikan provinsi akan turun langsung," ujarnya.
Menurutnya aksi pungutan liar, pemerasan, pemalakan, premanisme serta memasang tarif rumah makan tidak wajar terhadap wisatawan harus dibersihkan karena merugikan sektor pariwisata.
"Semua harus bersih karena menyangkut keamanan dan kenyamanan wisatawan yang datang," ujarnya.
Nasrul juga meminta pemerintah daerah melibatkan masyarakat setempat berperan aktif dalam pengembangan pariwisata.
"Jangan mentang-mentang preman lalu diusir, akan lebih baik diberdayakan karena jika tidak akan terus mengganggu," lanjutnya.
Selain itu ia juga meminta satgas menertibkan restoran dan rumah makan yang memasang tarif tidak wajar kepada pengunjung khususnya wisatawan.
"Untuk kota Padang saya beri apresiasi karena telah membuat daftar 24 rumah makan yang direkomendasikan untuk dikunjungi," tambah dia.
Sementara Akademisi Universitas Andalas (Unand) Padang Dr Sari Lenggogeni mengatakan salah satu yang akan menjadi pertimbangan wisatawan berkunjung ke suatu daerah adalah soal keamanan.
Selama wisatawan berkunjung hanya dua yang akan terjadi yaitu punya kenangan indah atau sebaliknya pengalaman buruk, kata dia.
Menurutnya kalau wisatawan punya pengalaman yang baik maka akan bercerita kemana pun bahwa Sumbar bagus untuk dikunjungi sehingga membuka pasar baru atau kunjungan berulang.
"Namun sebaliknya kalau wisatawan tidak nyaman maka yang terjadi adalah mereka bercerita agar jangan berkunjung ke Sumbar sehingga akan merugikan daerah," tambah dia. (*)
Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
