Logo Header Antaranews Sumbar

Polisi: Penyelidikan Kampus IAIN Bukan Fokus Korupsi

Rabu, 24 September 2014 09:31 WIB
Image Print

Padang, (Antara) - Kepolisian Resor (Polres) Kota Padang saat ini memfokuskan penyelidikan penyebab ambruknya plafon gedung IAIN Imam Bonjol Padang yang menyebabkan korban luka-luka, bukan pada dugaan korupsi. "Penyelidikan itu bukan fokus kepada dugaan korupsi, tapi tentang ambruknya plafon kampus yang menyebabkan korban luka ringan," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Kota Padang Kompol Iwan Ariyandhi di Padang, Rabu. Tentang permasalahan dugaan korupsi, lanjutnya, itu akan ditentukan oleh pemrosesan yang dilakukan. Namun untuk saat ini, kepolisian fokus terhadap kejadian ambruknya bangunan. "Dalam proses nantinya akan dicari penyebab terjadinya reruntuhan hingga terdapat korban, apakah perencanaan dan pengawasan pembangunan gedung itu dilakukan dengan baik," katanya. Jika perencanaan dan pengawasan pembangunan gedung itu tidak dilakukan dengan baik, lanjutnya, dari situ akan dicari tahu apakah kejadian itu karena perbuatan korupsi atau tidak. "Itupun butuh pembuktian," katanya. Iwan menjelaskan, pemrosesan kejadian reruntuhan itu saat ini berada di tingkat penyelidikan. Dimana pihaknya telah mengklarifikasi kejadian kepada beberapa orang yang terkait. Dalam kesempatan itu, ia juga menyayangkan beberapa pemberitaan yang menulis jika kasus tersebut berada di tingkat penyidikan. "Penyidikan dan penyelidikan itu secara penulisan memang tidak jauh berbeda, tapi tentang tahapan pemrosesan yang dilakukan jelas berbeda. Karena itu diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)," katanya. Pada bagian lain, ambruknya plafon gedung perkuliahan mahasiswa semester I jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di gedung Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang, terjadi Senin (15/9), sekitar Pukul 15.00 WIB. Akibat kejadian itu, sebanyak delapan mahasiswa yang sedang kuliah intensif Bahasa Arab terluka. Gedung itu awalnya mengalami rusak akibat gempa 30 September 2009. Kemudian diperbaiki oleh Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Sumbar pada 2010, menggunakan dana rehabilitasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Proses lelang dan kepanitiaan gedung yang ambruk itu, seluruhnya berasal dari Dinas Prasjal Tarkim Sumbar. Namun hingga saat ini, belum pernah diserahkan kepada pihak kampus pasca perbaikan. Sedangkan Kepala Dinas Prasjal Tarkim Suprapto, mengatakan akan menugaskan anggotanya untuk mengecek kondisi kerusakan bangunan tersebut, karena sudah melampaui masa pemeliharaan. (*/hul)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026