"Permeable Pavement" Alternatif Mengembalikan Kawasan Resapan Jakarta

id "Permeable Pavement" Alternatif Mengembalikan Kawasan Resapan Jakarta

Delft, Belanda, (Antara) - Teknologi "permeable pavement" dapat menjadi alternatif untuk mengembalikan kawasan resapan yang hilang di Jakarta akibat urbanisasi, yang telah mengubah fungsi hutan dan lahan hijau menjadi lahan konstruksi, seperti perumahan, perkantoran, pusat belanja, dan jalan. "Kecepatan urbanisasi di Jakarta dan daerah sekitarnya sangat cepat. Berbagai data survei dan statistik menunjukkan urbanisasi di Jabodetabek mencapai 200 hingga 300 persen dalam kurun waktu 2012--2025," kata peneliti independen dari Universitas Teknologi Delft, Belanda, David Ginting di Delft, Minggu (14/9). Ia menjelaskan Jakarta menghadapi dilema antara meningkatkan aktivitas dan pertumbuhan ekonominya yang memicu arus urbanisasi semakin kencang dengan ancaman banjir karena berkurangnya hutan dan lahan yang berfungsi menyerap air, terutama pada musim hujan. "Karena ekonomi dan kesejahteraan harus terus berjalan dan meningkat, karakteristik kawasan resapan di Jakarta harus dikembalikan dengan menjadikan kawasan perkotaan sebagai daerah resapan. Salah satu teknologi yang potensial diterapkan di Jakarta dan daerah urbanisasi lain di sekitarnya adalah `permeable pavement`," kata Ginting. Permeable pavement adalah metode perkerasan yang memungkinkan volume air dalam jumlah besar meresap ke dalam tanah. Hal ini dapat terjadi karena perkerasan tersebut terdiri atas lapisan kerikil, yang ditumpuk dengan batu apung, dan ditutup dengan balok perkerasan. "Aktor terpenting dalam `permeable pavement` adalah batu apung karena memiliki daya resap yang sangat tinggi dibandingkan pasir dan lempung," kata Ginting. Ia menambahkan bahwa daya resap batu apung bisa mencapai 50 persen dari total luas. "Permeable pavement" telah diterapkan di sejumlah negara, salah satunya adalah Belanda yang berada di bawah permukaan laut. Dengan tebal lapisan, paling tidak 30 cm, per meter persegi perkerasan permeabel ini dapat menyerap 2--4 liter air per detik. "Walaupun terbukti berhasil, konstruksi perkerasan ini di Belanda atau negara Eropa lainnya terkendala harga batu apung yang mahal karena ketiadaan sumber daya. Potensi batu apung di Indonesia sangat besar. Namun, penggunaannya untuk konstruksi jalan belum banyak. Ini harus kita manfaatkan," kata Ginting. Konstruksi "permeable pavement" didukung dengan geotekstil, yakni lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, dan permeable yang digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah, serta pipa untuk menyalurkan air ke penyaluran, seperti sungai, waduk, dan laut. "Permeable pavement bisa diintegrasikan dengan jalan yang sudah ada sebelumnya, atau pada konstruksi baru," kata Ginting. Karena massa batu apung yang 2,5 kali lebih ringan daripada pasir dan kerikil, menurut dia, perkerasan permeabel tidak bisa dibangun untuk jalan yang dilalui kendaraan berat. "Teknologi ini cocok untuk jalan-jalan di perumahan, lahan parkir, pusat belanja yang tidak dilalui kendaraan berat. Saat ini kami sedang meneliti sejauh mana efektivitas perkerasan ini untuk mengurangi volume banjir di Jakarta," ujar Ginting. (*/WIJ)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.