Logo Header Antaranews Sumbar

Pemkab Pasaman Barat Data Kerugian Korban Longsor

Sabtu, 23 Agustus 2014 10:50 WIB
Image Print

Simpang Ampek, (Antara) - Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melakukan pendataan mengenai kerugian akibat longsor yang menghantam Bukit Kapalo Banda Jorong Benteng Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Jumat (22/8). "Berapa jumlah kerugian warga kita belum pastikan. Saat ini kita masih melakukan pendataan di lapangan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman Barat, Sabtu. Ia mengatakan dari data yang dikumpulkan petugas di lapangan sekitar 20 hektare sawah masyarakat tertimbun oleh lumpur dari bukit Kapalo Banda tersebut. Selain itu material longsor juga menutupi aliran sungai. Investigasi di lapangan tidak menunjukkan adanya korban jiwa dan petugas terkait sedang melakukan pembersihan material yang menutupi aliran sungai. Ia menyatakan longsor itu terjadi pada Jumat (22/8) sekitar pukul 12.30 WIB. Awalnya tanah longsor dari bukit yang tidak jauh dari sawah warga Sinuruik dan Talu. Panjang longsor itu diperkirakan mencapai 1,5 kilometer dengan lebar satu kilometer dan tinggi timbunan yang sudah berada di hamparan sawah petani itu mencapai 40-100 meter. Kondisi awal hamparan sawah itu sudah ada yang selesai panen sekitar lima hektar. Selebihnya juga ada yang akan dibajak dan mau ditanami padi. Peristiwa bencana alam itu sebenarnya terjadi dua kali, pertama sekitar pukul 12:30 WIB sebelum warga Shalat Jumat dan sekitar pukul 13:30 WIB kembali longsor usai Shalat Jumat. "Warga memang resah dan masih takut ke lokasi bukit longsor untuk melihat kondisi tersakhir longsor tersebut, karena khawatir datang longsor susulan," katanya. Petugas BPBD, PMI, Dinas PU, kepolisian, Basarnas, SAR, Muspika dan dari pihak jajaran nagari berada di lokasi untuk memberikan bantuan kepada masyarakat. "Banyak warga yang berdatangan, sehingga menjadi lokasi longsor tempat wisata sementara bagi pengunjung. Kita harapkan tidak ada lagi longsor susulan," katanya. (*/alt)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026