Logo Header Antaranews Sumbar

Palestina Minta Konferensi Internasional Soal Situasi di Gaza

Sabtu, 19 Juli 2014 20:14 WIB
Image Print

Jenewa, (Antara/Xinhua-OANA) - Kementerian Luar Negeri Swiss mengkonfirmasi lembaga itu telah menerima surat dari Pemerintah Palestina, yang meminta para penandatangan Konvensi Jendera membahas situasi di Jalur Gaza, kata media Swiss pada Jumat (18/7). Menurut media setempat, Swissinfo, Presiden Palestina Mahmoud Abbas di dalam surat itu mendesak Swiss --negara penyimpan Konvensi Jenewa-- mengadakan konferensi internasional penandatangan mengenai hukum internasional dalam konteks situasi yang meningkat di Jalur Gaza. Konvensi Jenewa adalah inti hukum kemanusiaan internasional yang bertujuan melindungi warga sipil, orang yang cedera dan sakit, tahanan perang dan personel medis selama konflik. Menurut Pemerintah Palestina, yang bergabung dengan Konvensi tersebut dan semua protokolnya pada April tahun ini, ketentuan mengenai kesepakatan dilanggar oleh aksi militer Israel saat ini di Jalur Gaza, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu malam. Pemerintah Palestina menganalisis bahwa pertemuan darurat para penandatangan Konvensi itu akan memungkinkan Abbas "menekan Israel". Berdasarkan ketentuan statuta Konvensi tersebut, Swiss harus melancarkan konsultasi diplomatik untuk melihat apakah ada cukup dukungan bagi konferensi semacam itu, sebagaimana ditetapkan. Israel melancarkan "Operation Protective Edge" pada Selasa (8/7), dan telah menjatuhkan ratusan ton bom ke Jalur Gaza, yang dikuasai HAMAS melalui udara, darat dan laut. Sementarai itu HAMAS dan kelompok lain gerilyawan Palestina menembakkan lebih dari 1.000 roket ke Israel. Para pejabat medis Palestina mengatakan jumlah korban jiwa di Jalur Gaza telah melebihi 240 hingga Kamis (17/7), dan lebih dari 1.770 orang lagi cedera. Kebanyakan korban jiwa adalah warga sipil, termasuk 25 anak kecil. Pada Kamis malam, Israel melancarkan serangan darat ke Jalur Gaza, setelah berhari-hari pemboman sengit, sehingga prospek bagi gencatan senjata dalam waktu dekat jadi makin suram. (*/sun)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026