Libya akan Gelar Pemilu Bulan Depan
Rabu, 21 Mei 2014 10:57 WIB
Tripoli, (Antara/AFP) - Libya akan menggelar pemilihan umum pada bulan depan untuk menggantikan parlemen sementara dan pada saat bersamaan pemerintah negara tersebut kesulitan mengatasi gerakan bersenjata eks-gerilyawan.
Komisi pemilu mengatakan bahwa pemungutan suara akan dilakukan pada 25 Juni bersamaan dengan masa reses parlemen sementara atau Dewan Umum Nasional (GNC).
Pemilu tersebut dinilai dapat mencegah Libya dari perang saudara setelah Jenderal Khalifa Haffar--yang status militernya tidak diakui pemerintah--memulai serangan terhadap kelompok Islam di Benghazi.
Kelompok Islam saat ini mendominasi parlemen sementara Libya. Mereka pada awal tahun ini sempat memicu kemarahan publik saat dengan sepihak memperpanjang mandat sampai Desember.
Akibatnya sekelompok orang bersenjata dari brigadir Zintan yang mengaku mendukung Haftar menyerang gedung parlemen pada Ahad dan memaksa GNC melakukan rapat di sebuah hotel dua hari kemudian.
Yang terjadi berikutnya, sejumlah kelompok bersenjata rival Zintan terbelah. Sebagian mendukung jenderal tersebut sementara sebagian yang lain menyatakan menolak.
Salah satu kelompok bersenjata yang kemudian memihak Zintan adalah unit pasukan khusus tentara nasional di Benghazi. Mereka berharap Zintan dapat membantu menangani serangan-serangan para jihadis di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat mencoba menarik jarak dari apa yang terjadi di Libya dan upaya Haftar mengambil alih kekuasaan.
"Kami belum menghubungi Haftar. Kami tidak mengecam ataupun mendukung tindakannya di Libya dan tidak pula membantu aksi tersebut," kata juru bicara departemen luar negeri Amerika Serikat Jen Psaki di Washington.
"Kami mendesak seluruh phak untuk menahan diri dari kekerasan dan menyelesaikan masalah dengan cara-cara damai," kata Psaki yang juga menolak menyebut tindakan Haftar sebagai kudeta.
Sementara itu pihak milisi jihadis di Benghazi dan Tripoli bersumpah untuk melawan apapun yang dilakukan pasukan Haftar.
Kelompok tersebut menuduh Haftar melakukan "peperangan terhadap Islam dengan dukungan Amerika Serikat dan sekutu Arabnya."
Pasukan Haftar menarik diri dari Benghazi setelah menyerang kelompok jihadis pada Jumat lalu dan berhasil menewaskan 79 orang. Dia berjanji akan kembali ke kota tersebut untuk membersihkan para "teroris." (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Resmi perpanjang kontrak, Thomas Tuchel akan terus latih Inggris hingga 2028
13 February 2026 4:41 WIB
Persita dalam bidikan Semen Padang FC yang akan buktikan kekuatan di kandang
04 February 2026 14:13 WIB
Pemprov Sumbar Akan prioritaskan ke Daerah Terdampak Bencana pada Kegiatan Safari Ramadhan Tahun 2026
02 February 2026 15:31 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018