Polisi Ukraina Gunakan Meriam Air, Pemrotes Lempar Bom Bensin
Rabu, 19 Februari 2014 8:04 WIB
Kiev, (Antara/Reuters) - Polisi Ukraina menggunakan meriam air pada Selasa untuk membubarkan pengunjuk rasa di tepi alun-alun Kiev yang telah mereka duduki, gambar-gambar televisi menunjukkan.
Para pengunjuk rasa anti-pemerintah ditampilkan melemparkan bom-bom bensin, kembang api dan batu ke arah polisi antihuru-hara dan membakar tumpukan ban serta kayu untuk memblokir para petugas yang berusaha memasuki Independence Square.
Sembilan orang tewas dalam bentrokan di Kiev pada hari Selasa, tujuh warga sipil dan dua polisi, kata polisi.
Pada Selasa pagi, pemrotes anti-pemerintah menyerang polisi dengan menggunakan bom bensin di luar gedung parlemen. Dua kendaraan yang menghalangi jalan menuju parlemen dibakar oleh demonstran. Polisi menanggapi dengan granat kejut dan gas air mata guna memukul mundur massa.
Kanselir Jerman Angela Merkel pada Senin bertemu dengan dua pemimpin oposisi Ukraina, sebagai tanda dukungan, tetapi tampaknya tidak memberikan dukungan konkret untuk permohonan sanksi-sanksi langsung mereka kepada Presiden Viktor Yanukovich.
Ukraina telah terpukul oleh kerusuhan tiga bulan berkaitan dengan korupsi pemerintahan Yanukovich, yang dipicu oleh keputusannya untuk tidak mengejar perdagangan dan transaksi lain dengan Uni Eropa.
Oposisi Ukraina telah mendesak Uni Eropa untuk mendesak
dukungan vokal demi perlawanan yang lebih demokratif. Pada Senin, pihaknya juga mendesak Yanukovich untuk menerima pembatasan pada kekuasaannya yang akan memungkinkan untuk membentuk satu pemerintahan independen guna meredakan protes dan menyelamatkan perekonomian dari kehancuran.
Pada konferensi pers di parlemen Jerman, para pemimpin oposisi
Vitaly Klitschko dan Arseny Yatsenyuk mengatakan mereka senang dengan pembicaraan dengan Merkel. Namun saat ditanya tentang tanggapannya untuk usulannya tentang sanksi, petinju yang berubah menjadi politikus Klitschko hanya menjawab: "Semua opsi ada di meja."
Andreas Schockenhoff, seorang anggota parlemen senior kubu konservatif Merkel yang menjadi tuan rumah dua pemimpin Ukraina, mengatakan bahwa sementara masih ada kesempatan yang realistis untuk mencapai politik kompromi dengan Yanukovich untuk mengakhiri konflik," maka tidak akan tepat untuk memperkenalkan sanksi-sanksi tetapi tidak mengesampingkannya".
Klitschko dan Yatsenyuk menekankan perlunya bantuan ekonomi dari Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional - tetapi tidak untuk pemerintah Yanukovich. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kualifikasi Piala Dunia 2026 : Prancis tekuk Azerbaijan, Ukraina atasi Islandia
17 November 2025 6:47 WIB
Prancis buka Kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 2-0 atas Ukraina
06 September 2025 4:47 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018