FARC Tuduh Mantan Presiden Kolombia Mata-matai Perundingan
Kamis, 6 Februari 2014 5:40 WIB
Havana, (Antara/AFP) - Kelompok gerilya Kolombia FARC hari Rabu menuduh mantan Presiden Alvaro Uribe mendalangi aksi mata-mata terhadap perunding perdamaian oleh sebuah satuan intelijen militer.
Tuduhan mengenai tindakan mata-mata itu diungkapkan Selasa oleh mingguan Semana, yang menyulut saling kecam antara kedua kepala intelijen militer.
Termasuk yang dikabarkan dimata-matai adalah tim perunding Presiden Juan Manuel Santos yang sedang melakukan pembicaraan dengan FARC di Havana, Kuba.
Santos memerintahkan penyelidikan mengenai masalah itu dan mengatakan, "kekuatan gelap" sedang berusaha menyabotase perundingan perdamaian, namun ia tidak memberikan penjelasan terinci lebih lanjut mengenai hal itu.
Ketua perunding FARC pada pembicaraan itu Ivan Marquez menuding langsung Uribe, tokoh garis keras yang menentang perundingan perdamaian tersebut.
"Alvaro Uribe mendalangi hal ini," katanya kepada wartawan sebelum memulai perundingan di Havana.
Menurut Marquez, aksi mata-mata itu ditujukan pada delegasi FARC pada perundingan itu dan ia meminta penjelasan pemerintah mengenai hal itu.
Selama lebih dari setahun, pemerintah Santos dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) melakukan perundingan perdamaian di Kuba dengan tujuan mengakhiri konflik terlama Amerika Latin itu.
Dari lima poin agenda, kedua pihak sejauh ini baru mencapai dua kesepakatan -- reformasi tanah dan keikutsertaan kelompok pemberontak itu dalam politik jika mereka mengakiri perang yang telah berlangsung hampir 50 tahun. Masalah-masalah lain yang diagendakan adalah perdagangan narkoba, ganti-rugi korban perang dan diakhirinya konflik.
FARC untuk pertama kali telah mengakui sebagian tanggung jawab atas pertumpahan darah puluhan tahun, yang mengisyaratkan perubahan berarti dalam sikap mereka karena selama ini kelompok itu tetap mengklaim bahwa anggota-anggotanya menjadi korban penindasan pemerintah.
Pemerintah Kolombia dan FARC memulai dialog di Oslo, ibu kota Norwegia, pada 18 Oktober 2012 yang bertujuan mengakhiri konflik setengah abad yang telah menewaskan ratusan ribu orang. Perundingan itu dilanjutkan sebulan kemudian di Havana, Kuba.
Tiga upaya sebelumnya untuk mengakhiri konflik itu telah gagal.
Babak perundingan terakhir yang diadakan pada 2002 gagal ketika pemerintah Kolombia menyimpulkan bahwa kelompok itu menyatukan diri lagi di sebuah zona demiliterisasi seluas Swiss yang mereka bentuk untuk membantu mencapai perjanjian perdamaian.
Kekerasan masih terus berlangsung meski upaya-upaya perdamaian dilakukan oleh kedua pihak.
FARC, kelompok gerilya kiri terbesar yang masih tersisa di Amerika Latin, diyakini memiliki sekitar 9.200 anggota di kawasan hutan dan pegunungan di Kolombia, menurut perkiraan pemerintah. Kelompok itu memerangi pemerintah Kolombia sejak 1964. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mantan juara tinju kelas berat Mike Tyson tuduh platform streaming Hulu "curi" kisah hidupnya
09 August 2022 11:40 WIB, 2022
Taiwan tuduh China di balik polemik daftar kewarganegaraan penonton Piala Dunia 2022 Qatar
21 June 2022 6:15 WIB, 2022
Perjanjian kapal selam dibatalkan sepihak, Macron tuduh PM Australia berbohong
01 November 2021 10:22 WIB, 2021
Koeman tuduh PSG tak sopan karena bahas Messi jelang laga kedua tim
04 February 2021 11:55 WIB, 2021
Penasihat Gedung Putih AS tuduh China simpan data COVID-19 demi kemenangan
21 April 2020 10:43 WIB, 2020
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018