Obama Berencana "Menyelami" Isu Laut China Selatan
Selasa, 20 November 2012 18:46 WIB
Phnom Penh, (ANTARA/AFP) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan "menyelami perairan diplomatik" Laut China Selatan, yang didominasi saling klaim atas wilayah strategis itu dalam konferensi tingkat tinggi di Phnom Penh.
Obama diperkirakan mengungkapkan kekhawatiran tentang perselisihan antara Beijing dan beberapa tetangganya di Asia Tenggara, yang telah memicu ketegangan di seluruh kawasan tahun ini dan menghambat upaya untuk mendorong kerja sama ekonomi.
Presiden AS akan hadir di KTT itu di penghujung perjalanannya setelah mengunjungi tiga negara di Asia yang bertujuan memperdalam pengaruh Washington di wilayah tersebut dan melawan bangkitnya China.
Obama dan Perdana Menteri China Wen Jiabao merupakan dua pemimpin dari 18 negara yang akan menghadiri KTT Asia Timur, dan direncanakan mengadakan pembicaraan bilateral di sela-sela pertemuan tersebut.
Obama juga dijadwalkan melakukan pertemuan langsung dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda.
Mengulang pertemuan yang diselenggarakan di China, Wen berkeras bahwa sengketa maritim tidak harus dibicarakan di dunia dan dibahas pada acara-acara puncak multilateral.
China, yang mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh laut, lebih suka bernegosiasi langsung dengan negara tetangga dari 10 anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Namun Obama dan para pemimpin ASEAN sepakat dalam pertemuan Senin mendukung tata perilaku untuk mengatur klaim sengketa di kawasan tersebut, kata satu pengumuman resmi pertemuan AS-ASEAN.
Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei yang merupakan anggota ASEAN, serta Taiwan, juga mengklaim sebagian laut tersebut, yang merupakan rumah bagi beberapa jalur pelayaran paling penting di dunia dan diyakini kaya akan bahan bakar fosil.
Klaim tumpang tindih tersebut telah terjadi selama beberapa dekade, membuat laut tersebut menjadi isu di kawasan. China dan pasukan Vietnam terlibat dalam bentrokan pada 1974 dan 1988 yang mengakibatkan puluhan tentara tewas.
Setelah sekian lama keadaan relatif tenang, ketegangan mulai meningkat pada dua tahun lalu. Filipina dan Vietnam menyatakan kekhawatiran bahwa China menjadi semakin agresif untuk mempertaruhkan yang menjadi klaimnya.
Beberapa konfrontasi diplomatik keras tahun ini membayangi pertemuan beberapa wilayah, para peserta biasanya lebih memilih untuk fokus pada peningkatan hubungan ekonomi.
Hari pertama dari dua hari KTT Asia Timur didominasi dengan pertikaian masalah antara blok ASEAN.
Kamboja, ketua ASEAN tahun ini dan sekutu dekat China mengatakan 10 negara anggota telah sepakat tidak "menginternasionalisasi" sengketa itu, yang akan memberikan Beijing kemenangan diplomatik penting.
Namun Filipina dengan cepat membantah setuju. Presiden Benigno Aquino menegur Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dalam salah satu pertemuan, Senin.
"Bagaimana bisa konsensus? Konsensus berarti 100 persen. Bagaimana bisa ada konsensus ketika dua dari kita tak menyetujuinya," kata Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario.
Sementara Albert tidak mengidentifikasi negara lain yang menentang perjanjian, kata seorang diplomat.
Untuk pertama kali dalam sejarah perhimpunan tersebut selama 45 tahun, pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Phnom Penh, Juli, berakhir tanpa kesepakatan bersama.
Filipina dan Vietnam menginginkan pernyataan untuk membuat referensi spesifik tentang perselisihan mereka dengan China, namun Kamboja memblokir pergerakan.
Meskipun ketegangan terjadi, para pemimpin diperkirakan membuat kemajuan penting terhadap isu ekonomi, Selasa.
Negara-negara ASEAN secara resmi bernegosiasi untuk menciptakan pakta perdagangan bebas dengan China, Jepang, India, Korea Selatan, Australia dan Selandia Baru.
Menteri Perdagangan China, Jepang dan Korea Selatan berencana mengadakan pembicaraan yang bertujuan untuk memulai negosiasi tiga cara perdagangan bebas. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Sumbar berencana lanjutkan pembangunan Bypass Bukittinggi-Koto Baru
27 October 2025 14:40 WIB
Padang Pariaman masih alami kendala jalankan KB meskipun realisasinya lebihi target
25 September 2025 16:27 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018