Ethiopia Pertimbangkan Bergabung Pasukan AU di Somalia
Senin, 11 November 2013 6:17 WIB
Addis Ababa, (Antara/AFP) - Ethiopia mempertimbangkan menyatukan pasukannya di Somalia ke dalam misi Uni Afrika (AU) yang didukung PBB ketika upaya dilakukan untuk meningkatkan operasi menumpas kelompok gerilya Al-Shabaab, kata sejumlah pejabat, Minggu.
Pasukan Ethiopia memasuki Somalia pada November 2011 untuk membantu misi AU di Somalia (AMISOM) dan pasukan pemerintah, namun menolak menyatukan prajuritnya ke dalam pasukan Uni Afrika tersebut.
"Diperlukan lebih banyak pasukan Afrika, dan jika ada permintaan, maka... kami bersedia mempertimbangkan lagi posisi kami," kata juru bicara pemerintah Getachew Reda kepada AFP.
Getachew tidak bisa memastikan kapan keputusan akan diambil namun mengatakan, jumlah pasukan Ethiopia di Somalia -- ratusan -- tidak akan ditambah.
Ethiopia berbagi perbatasan bersama dengan Somalia dan pasukannya menguasai pangkalan-pangkalan penting Al-Shabaab di Somalia baratdaya, termasuk Baidoa dan Beledweyne.
AMISOM yang didanai PBB, yang mencakup pasukan Kenya, Uganda dan Burundi, berada di Somalia sejak 2007, dan Dewan Keamanan PBB diperkirakan segera mensahkan penambahan 4.000 prajurit lagi untuk pasukan itu, sehingga jumlahnya sekitar 22.000.
Al-Shabaab mengejutkan dunia dengan serangan di pusat perbelanjaan di Nairobi, yang dimulai Sabtu siang (21 September), ketika orang-orang bersenjata menyerbu ke dalam kompleks pertokoan itu dengan menembakkan granat dan senjata otomatis serta membuat pengunjung toko yang panik lari berhamburan untuk menyelamatkan diri.
Kelompok itu menyandera sejumlah orang dan terlibat dalam ketegangan dengan polisi dan pasukan hingga Selasa (24 September), ketika Presiden Kenya Uhuru Kenyatta mengumumkan bahwa bentrokan telah berakhir dan sedikitnya 67 orang tewas.
Kenya, yang menjadi tempat tinggal banyak warga Somalia, dilanda gelombang serangan, terutama di Nairobi dan kota pelabuhan Mombasa, serta Garissa, setelah pasukan negara itu memasuki Somalia pada Oktober 2011 untuk menumpas kelompok gerilya garis keras Al-Shabaab, yang mereka tuduh bertanggung jawab atas penculikan dan serangan bom di dalam wilayah Kenya.
Pasukan Kenya menyerang pangkalan-pangkalan Al-Shabaab sejak dua tahun lalu dan kemudian bergabung dengan pasukan Uni Afrika berkekuatan 17.700 orang yang ditempatkan di Somalia.
Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah Somalia dukungan PBB.
Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pakar sebut efisiensi anggaran harus pertimbangkan kemampuan daerah
12 February 2025 15:41 WIB, 2025
HPJI beri saran Tol Sicincin-Bukittinggi pertimbangkan aspek efisiensi
05 February 2025 17:48 WIB, 2025
Pemkot Pariaman minta pemasangan APK Pilkada pertimbangkan nilai estetika
24 September 2024 15:50 WIB, 2024
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018