Potcheon, Korea Selatan, (Antara/ AFP) - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel mengelilingi perbatasan Korea Selatan-Utara, memulai perjalanannya ke daerah sekutu utama untuk menghentikan program senjata nuklir Pyongyang. "Tidak ada batas kesalahan di sini," kata Hagel kepada wartawan dengan penjagan ketat di zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua Korea. Kunjungan Hagel ke Korsel dan Jepang mengikuti tanda-tanda bahwa Korut mungkin akan memperluas produksi senjata kelas bahan fisil, yang bahkan perlu menyerukan kembali pembicaraan enam pihak denuklirisasi. Hagel berharap ketiga perjalanannya ke Asia sebagai kepala Pentagon tersebut dapat menggarisbawahi pentingnya aliansi militer AS dengan Seoul dan Tokyo, bukan hanya dalam konteks Korut tetapi juga tumbuhnya ancaman kekuatan strategis China. Pada Senin, Hagel menyaksikan latihan kebakaran secara langsung di sebuah kompleks militer, 10 kilometer sebelah selatan perbatasan Korea Utara. Kemudian, dia berkeliling DMZ, tempat yang digambarkan paling menakutkan di bumi oleh mantan presiden AS Bill Clinton, dengan rekannya dari Korea Selatan, Kim Kwan-Jin. "Ini mungkin satu-satunya tempat di dunia di mana kami selalu memiliki risiko konfrontasi," katanya kepada wartawan di Desa Panmunjom, di mana gencatan senjata Perang Korea ditandatangani. Hagel dan Kim akan mengadakan pembicaraan pada Selasa yang fokus pada permintaan Seoul untuk perpanjangan komando masa perang AS atas pasukan Korea Selatan. Dalam hal perang dengan Korut, Korsel meminta komandan militer AS untuk memimpin 28.500 tentara AS dan 640.000 angkata Korsel yang dikerahkan untuk negara tersebut. Korea Selatan sepakat untuk mengambil alih komando operasi perang dari semua pasukan mulai 2015, sebuah keputusan yang mundur dari waktu yang ditargetkan, yaitu 2012. Tapi pembuat kebijakan pertahanan Korsel sekarang mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan masa transisi, mengingat meningkatnya ancaman militer dari Korut setelah uji coba nuklir Februari lalu. Washington kelihatan frustasi dengan peringatan Seoul dan tertarik untuk mengundur masa transisi. Saat diskusi dengan wartawan dalam penerbangan ke Seoul, Hagel mengatakan militer Korsel menjadi jauh lebih canggih dalam 10 tahun terakhir, dan peralihan komando operasional tidak akan melemahkan komitmen AS untuk pertahanan Korsel. Namun, dia menambahkan waktunya tidak tepat untuk membuat keputusan akhir pada masalah tersebut, yang juga akan dibahas dalam pertemuannya dengan President Park Geun-Hye. Ketegangan di semenanjung Korea, yang meroket setelah uji coba nuklir, telah sedikit mereda pada bulan lalu, namun kekhawatiran atas ambisi nuklir Pyongyang tetap kuat. Analisis dari gambar terakhir satelit menunjukkan reaktor plutonium telah dimulai kembali yang menyediakan bahan fisil untuk setidaknya dua dari tiga tes nuklir, dan kemungkinan terjadi pengayaan kapasitas uranium dua kali lipat di kompleks nuklir Yongbyon. Hagel mengatakan penggunaan senjata kimia di Suriah baru-baru ini dan respon masyarakat internasional telah mendapat perhatian khusus oleh para pejabat di Seoul. "Korsel sangat prihatin karena Korut memiliki persediaan senjata kimia yang sangat signifikan," katanya. Korut dan sekutu utamanya China memiliki keduanya, yang mendesak dimulainya kembali pembicaraan enam pihak mengenai program nuklir Korut. Tapi Washington dan Seoul bersikeras Pyongyang harus menunjukkan komitmen nyata untuk denuklirisasi sebelum dialog substantif dapat diselenggarakan. Proses pembicaraan enam-pihak, yang berhenti pada tahun 2009, melibatkan kedua Korea, China, Jepang, Rusia dan Amerika Serikat. Selama berada di Seoul, Hagel akan menghadiri parade militer untuk memperingati ulang tahun ke-65 berdirinya angkatan bersenjata Korsel, Selasa. Perayaan tersebut akan menampilkan rudal jelajah yang menurut Korsel, mampu menyerang operasi kepemimpinan Korut. Pada Rabu, dia akan pergi ke Jepang, yang semakin khawatir dengan perilaku China yang dianggap berbahaya atas pulau yang disengketakan di Laut China Timur. Perdana Menteri Shinzo Abe telah menandai baris teritorial untuk memperkuat anggota militer Jepang. (*/sun)