Negara-negara Utama di PBB Terbentur Jalan Buntu Soal Suriah
Jumat, 30 Agustus 2013 5:39 WIB
PBB, Amerika Serikat, (Antara/AFP) - Amerika Serikat pada Kamis menegaskan bahwa Washington siap bertindak sendiri dalam melancarkan serangan hukuman terhadap Pemerintah Suriah --yang bersenjata kimia.
Sementara itu, negara-negara utama di Perserikatan Bangsa-Bangsa terus menemui jalan buntu.
Pemimpin Suriah Bashar al-Assad bertekad akan menahan campur tangan militer sementara pemerintah negara-negara sekutu AS, Inggris dan Prancis, sedang berjibaku untuk mendapatkan dukungan politik untuk menjalankan tindakan terhadap Suriah.
Sekutu kunci AS, Inggris, telah meningkatkan upaya besar-besaran guna mendapatkan dukungan bagi aksi militer, namun sidang negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan berlangsung tanpa menghasilkan terobosan.
Sidang yang berlangsung selama 45 menit itu merupakan pertemuan yang kedua kalinya sejak Inggris mengajukan rancangan resolusi untuk memberi izin bagi dilakukannya "semua tindakan yang diperlukan" guna melindungi para warga sipil Suriah setelah terjadinya dugaan serangan senjata kimia bulan lalu.
Namun, tidak ada satupun utusan dari Inggris, China, Prancis, Rusia dan Amerika Serikat yang mau memberikan keterangan ketika mereka meninggalkan ruang sidang.
Sementara itu, Amerika Serikat mengindikasikan bahwa pihaknya sudah siap untuk melakukan tindakan sepihak.
Awal pekan ini, laporan-laporan telah menunjukkan bahwa serangan oleh Barat akan segera terjadi.
Namun, pertanyaan yang masih muncul adalah tentang seberapa kuat intelijen yang mengaitkan Assad dengan serangan itu.
Serangan tetap bisa dijalankan, namun Gedung Putih sedang menggapai para anggota parlemen AS dan telah memberi waktu lebih banyak kepada sekutu-sekutunya dalam menghadapi tentangan domestik.
AS juga memberi waktu bagi para pemeriksa PBB untuk menyelesaikan misi mereka.
"Kita tentunya ingin bersatu dengan masyarakat internasional dalam masalah ini," kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest.
"Namun, pada saat yang sama, pertanggungjawaban utama presiden adalah kepada rakyat Amerika, yang dipilih untuk memberikan perlindungan.
"Presiden sangat yakin dalam membuat keputusan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan-kepentingan utama nasional kita."
Presiden Barack Obama mengatakan dugaan penggunaan senjata kimia dalam skala besar oleh rezim Assad merupakan ancaman bagi keamanan AS serta kejahatan terhadap rakyat Suriah.
Kapal-kapal AS yang dipersenjatai dengan sejumlah peluru kendali sedang dikumpulkan di Mediterania timur.
Pejabat-pejabat militer AS mengatakan mereka siap meluncurkan serangan kuat bertubi-tubi terhadap target-target rezim Assad di Suriah.
Sekutu Assad, Rusia, telah menghadang segala upaya bagi dijatuhkannya sanksi internasional terhadap Damaskus ataupun mensahkan kekuatan asing untuk menghukum atau menyingkirkan rezim Suriah.
Suriah berada dalam perang saudara ganas yang telah berlangsung selama 29 bulan yang, menurut laporan, telah menelan 100.000 korban jiwa.
Sebuah tim pemeriksa PBB sedang menyelidiki laporan-laporan --yang dipercayai oleh pemerintahan-pemerintahan Barat-- bahwa serangan gas pekan lalu di luar Damaskus telah menewaskan lebih dari 350 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon telah meminta agar para pemeriksa PBB dibiarkan untuk menyelesaikan misi mereka terlebih dahulu sebelum negara-negara utama memutuskan tindakan apapun. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BRI Region 3 Padang jalin kerjasama dengan Kejati terkait penanganan hukum perdata dan tata usaha negara
28 January 2026 15:58 WIB
Rektor UNAND Hadiri Taklimat Presiden Prabowo di Istana Negara, Siap Akselerasi Riset
17 January 2026 10:24 WIB
KPK jerat Yaqut Cholil dan Gus Alex rugikan negara, BPK masih hitung totalnya
09 January 2026 18:16 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018