Quetta, Pakistan/Baluchistan, 24/8 (Antara/AFP) - Satu pengadilan Pakistan pada Sabtu menolak petisi yang diajukan mantan diktator militer Pervez Musharraf atas peradilan dirinya terkait kematian seorang pemimpin pemberontak untuk dipindahkan karena ketakutan atas keamanan. Musharraf adalah kepala negara tahun 2006 ketika Akbar Bugti, pemimpin pemberontak utama di Provinsi Baluchistan, di bagian baratdaya Pakistan, meninggal dalam operasi tentara. Jenderal purnawirawan itu, yang kembali ke Pakistan Maret setelah mengasingkan diri selama empat tahun, menjalani tahanan rumah di vilanya di pinggir kota Islamabad sejak 19 April. Dia menghadapi dakwaan dalam beberapa kasus besar, termasuk pembunuhan mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto 2007 dan juga pembunuhan Bugti. Para pengacara Musharraf pada Sabtu meminta kepala pengadilan tinggi Baluchistan untuk memindahkan pengadilannya atas pembunhuan Bugti ke Rawalpindi, kota kembar Islamabad, ibu kota Pakistan, di Provinsi Punjab. "Pengadilan telah menolak petisi kami dengan mengatakan hal itu tak dapat dilaksanakan," kata Ilyas Siddiqui, seorang pengacara yang mewakili Musharraf di pengadilan Quetta, kota di bagian baratdaya Pakistan, kepada AFP. "Kami telah meminta bahwa Musharraf mendapat ancaman-ancaman keamanan di Baluchistan maka kasusnya dipindahkan dari provinsi itu tetapi hakim tidak setuju," kata Siddiqui. Sebelumnya kepala pengadilan tinggi Baluchistan mengizinkan pemerintah provinsi untuk menarik petisi serupa. Satu pemerintahan sementara, yang dibentuk di provinsi itu untuk melaksanakan pemilihan umum pada 11 Mei, telah mengajukan permintaan di pengadilan Baluchistan untuk kasus itu dipindahkan karena alasan-alasan keamanan. Namun pemerintah provinsi yang baru terpilih, yang naik ke tampuk kekuasaan pada Juni, menarik permohonan itu dan memberitahu pengadilan bahwa mereka dapat memberikan keamanan kepada Musharraf. (*/sun)