Kigali, (Antara/AFP) - Tentara Rwanda memperingatkan tetangganya, Republik Demokratik Kongo, yang dituduhnya melakukan pemboman disengaja melewati perbatasan, dan bahwa ia tidak akan bersikap "tanpa batas", katanya dalam pernyataan pada Jumat malam. Pada Kamis, Rwanda menuduh pasukan Kongo menembakkan roket di atas perbatasan ke desa Bugu, sedangkan pada Jumat sore, pihaknya mengatakan lima bom mortir mendarat di desa Rwanda; Bukumu, Kagezi, Kageyo, dan Rusura. "RDF (Angkatan Pertahanan Rwanda) tetap siap untuk mengambil semua langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin keamanan penduduk," kata Juru Bicara Militer Rwanda Joseph Nzabamwita dalam satu pernyataan. "Aksi provokasi yang membahayakan kehidupan warga Rwanda itu tidak akan tetap terjawab tanpa batas waktu," tambahnya, namun menekankan bahwa Kigali "tetap berkomitmen dan aktif dalam mencari solusi yang berkelanjutan". Pemboman terjadi di tengah bentrokan-bentrokan baru di luar timur kota titik api DR Kongo, Goma, antara tentara Kongo, pasukan PBB yang berjuang bersama dan M23, kata seorang pemberontak Kongo yang menuduh didukung kelompok Rwanda. Namun Rwanda membantah tuduhan itu. M23 terdiri dari suku Tutsi Kongo yang diintegrasikan ke dalam tentara setelah perjanjian damai 2009. Mereka memberontak pada April 2012 namun mengatakan kesepakatan itu tidak pernah dilaksanakan. Dalam saling balas serangan, pemerintah Kinshasa pada gilirannya menuduh Rwanda menembakkan roket ke Goma pada Kamis untuk membantu M23, klaim inipun dibantah Kigali. Kerusuhan terbaru meletus pada pertengahan Juli dan berakhir dengan gencatan senjata hampir dua bulan antara pemberontak M23 dan pasukan pemerintah. "Sifat dan pola penembakan ini menunjukkan bahwa mereka tidak terjadi secara tidak sengaja," kata Nzabamwita. "Pemboman sembarangan lanjutan di desa-desa Rwanda oleh kekuatan bersenjata DR Kongo tidak dapat diterima dan harus segera dihentikan," tegasnya. (*/sun)