Turki Tuduh OIC Pasif Atas Kekerasan di Mesir
Senin, 19 Agustus 2013 19:18 WIB
Ankara, (Antara/AFP/Xinhua) - Pemerintah Turki pada Senin menuduh Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) dan sekretaris jenderalnya dari Turki masih tidak berbuat apa-apa atas pertumpahan darah di Mesir.
"Saya akan katakan saya mengundurkan diri karena ... saya tidak dapat menerima sikap satu organisasi Islam yang membawa nama Islam di hadapan aksi brutal seperti itu," kata Wakil Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag dalam keterangannya yang disiarkan melalui televisi.
Jika Sekjen OKI Ekmeleddin Ihsanoglu membuat keputusan seperti itu untuk mengundurkan diri karena OIC tak berbuat apa-apa menghadapi penumpasan oleh pemerintah dukungan militer di Mesir atas para pengunjuk rasa, dia mengatakan,"hal itu akan memiliki dampak."
OIC, yang beranggota 57 negara, merupakan organisasi Islam terbesar di dunia dan berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi.
Komentar-komentar Bozdag muncul setelah Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan pada Sabtu mengecam respons internasional atas kekerasan di Mesir, dengan menyatakan organisasi-organisasi termasuk PBB dan Uni Eropa semestinya malu karena tak bisa berbuat.
Turki telah memperkeras suaranya kepada penguasa baru Mesir, dengan memanggil duta besarnya untuk Kairo atas penumpasan militer pekan lalu. Mesir membalas langkah Turki itu.
Aksi-aksi unjuk rasa berlangsung tiap hari di Turki untuk mendukung presiden terguling Mesir Mohammad Moursi.
Kedua negara itu juga membatalkan pelatihan bersama angkatan laut yang akan dilaksanakan Oktober.
Turki pada Sabtu mendesak pemerintah sementara di Mesir agar mengakhiri pengepungan terhadap Masjid Al-Fatah, yang diduduki di Kairo oleh pendukung pro-Moursi.
"Turki menyerukan segera diakhirinya pengepungan Masjid Al-Fatah tanpa pertumpahan darah dan dengan dasar dihormatinya hak asasi manusia," kata satu pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Turki.
Turki berharap Pemerintah Mesir agar menghindari tindakan yang bertolak-belakang dengan nilai seperti dihormatinya nyawa manusia, kedaulatan manusia dan tempat suci, kata pernyataan itu.
Banyak pendukung Moursi telah berlindung di Masjid Al-Fatah di Bundaran Ramses sejak Jumat pagi (16/8) setelah mereka bentrok dengan pasukan keamanan dalam protes atas operasi pembubaran dua perkemahan aksi-duduk pada Rabu (14/8).
Di antara kelompok yang berlindung di masjid itu adalah dua wartawan Turki --Metin Turan dari media pemerintah TRT dan Hiba Zakariya dari kantor berita Anatolia, kata pernyataan tersebut.
Menurut pernyataan itu, tanggung-jawab Pemerintah Mesir lah untuk menjamin jalan ke luar yang aman buat warga negara Mesir dan Turki tersebut. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mantan juara tinju kelas berat Mike Tyson tuduh platform streaming Hulu "curi" kisah hidupnya
09 August 2022 11:40 WIB, 2022
Taiwan tuduh China di balik polemik daftar kewarganegaraan penonton Piala Dunia 2022 Qatar
21 June 2022 6:15 WIB, 2022
Perjanjian kapal selam dibatalkan sepihak, Macron tuduh PM Australia berbohong
01 November 2021 10:22 WIB, 2021
Koeman tuduh PSG tak sopan karena bahas Messi jelang laga kedua tim
04 February 2021 11:55 WIB, 2021
Penasihat Gedung Putih AS tuduh China simpan data COVID-19 demi kemenangan
21 April 2020 10:43 WIB, 2020
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018