Kairo, (Antara/AFP/Reuters) - Mesir menutup perbatasan Rafah untuk perlintasan di Sinai dengan Jalur Gaza Palestina pada Senin setelah serangan di dekatnya menewaskan 24 polisi, kata perwira perbatasan kepada kantor berita Prancis AFP. Pada pekan lalu, Mesir menyatakan akan menutup perlintasan itu untuk jangka waktu tak terbatas, tetapi dibuka kembali sebagian pada Sabtu, kata Kementerian Dalam Negeri di Gaza, yang diperintah Hamas. Keputusan untuk menutup perlintasan itu, satu-satunya jalan yang digunakan sebagian besar warga Palestina untuk meninggalkan wilayah tersebut, terjadi setelah 24 personel polisi Mesir tewas dalam satu serangan dekat tempat itu. Polisi menjadi sasaran para militan yang menembakkan granat berpeluncur roket atas dua bus yang sedang dalam perjalanan dari kota Rafah di sisi Mesir perbatasan itu dengan Gaza, kata petugas medis dan keamanan. Tiga personel lainnya menderita cedera, kata kementerian itu yang menyalahkan "kelompok-kelompok teroris bersenjata" berada di belakang serangan itu di utara Sinai. Serangan tersebut yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir karena jumlah korban melebihi jumlah korban serangan Agustus 2012 atas tentara Mesir di Jazirah Sinai. Dalam peristiwa itu 16 tentara gugur. Serangan pada pasukan keamanan pada Senin meningkat sejak militer menggulingkan Mohammad Moursi dari kursi kepresidenan pada 3 Juli lalu. Serangan itu merupakan tantangan yang sedang dihadapi penguasa baru Mesir untuk memadamkan unjuk rasa pendukung Moursi dan Ikhwanul Muslimin. Sedikit-dikitnya 850 orang meninggal sejak pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa itu di dua lokasi perkemahan pekan lalu. Penguasa Mesir melukiskan kampanye mereka sebagai perang terhadap terorisme. Ikhwanul Muslimin meninggalkan kekerasan beberpa dasawarsa lalu dan membantah mmeiliki hubungan dengan para militan bersenjata, termasuk mereka diu Sinai yang memiliki kekuatan sejak orang kuat Mesir Hosni Mubarak jatuh pada 2011. Peningkatan situasi tak aman di Sinai juga membuat khawatir Amerika Serikat karena kawasan itu terletak dekat Israel dan Jalur Gaza serta Terusan Suez. Sedikit-dikitnya 36 orang meninggal di tahanan pemerintah pada Minggu dalam satu insiden yang Ikhwanul Muslimin gambarkan sebagai "pembunuhan" dan pemerintah meneyebutnya sebagai usaha membobol penjara. Kementerian Dalam Negeri Mesir mengatakan 36 orang anggota Ikhwanul Muslimin telah menghirup gas air mata ketika mereka berusaha membobol penajara di Kairo. Satu sumber hukum mengatakan 38 pria meninggal di dalam mobil truk polisi karena kekurangan oksigen.(*/jno)