Bangkok, (Antara/AFP) - Sekitar 2.000 pendukung oposisi Thailand berkumpul dekat gedung parlemen, Rabu untuk memprotes satu rancangan undang-undang (RUU) amnesti bagi aksi kekerasan politik di negara itu., kata seorang wartawan AFP. Ratusan polisi anti-huruhara yang membawa perisai dan pentungan membarikade jalan parlemen dengan blok-blok beton dan pagar kawat berduri, untuk mencegah para pengunjuk rasa mencaai gedung yang terletak di satu tempat bersejarah Bangkok. Pemerintah Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dilanda aksi unjuk rasa selama beberapa hari, yang meningkatkan kekhawatiran bagi meletusnya kembali kerusuhan baru di negara mengalami perpecahan politik sementara parlemen akan melakukan sidang membahas satu RUU amnesti Rabu petang. Para anggota parlemen dari Demokrat yang oposisi, termasuk mantan perdana menteri dan pemimpin partai itu sekarang Abhisit Vejjajiva,memimpin para pendukung datang mendekati barikade 200 meter dari pintu gerbang parlemen dalam satu tindakan yang menyulut bentokan dengan polisi. Seorang wartawan AFP di lokasi itu melihat tiga truk meriam air dan sejumlah kendaraan polisi berada di belakang garis polisi. "Mengapa pemerintah ini ingin mengampuni mereka yang telah melanggar hak-hak asasi manusia?" tanya Abhisit kepada wartawan saat ia bergerak ke lokasi itu. Para pemrotes dari Demokrat menargetkan satu rancangan undang-undang yang didukung pemerintah, yang mengusulkan amnesti bagi mereka yang terlibat dalam aksi kekersan politik sejak kudeta militer yang menggulingkan mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra hampir tujuh tahun lalu. RUU akan mencabut tuduhan-tuduhan terhadap para pemrotes yang terlibat dalam insiden-insiden dari kudeta September 2006 sampai Mei 2012-- yang mengecualikan para pemimpin itu. Tetapi faksi-faksi anti-pemerintah khawatir undang-undang itu akan dimanipulasi oleh pemerintah partai Peau Thai yang berkuasa untuk membebaskan Thaksin. Thailand dilanda ketegangan politik sejak penggulingan Thaksin, abang PM Yingluck, yang tinggal di luar negeri tetapi masih mendapat dukungana dari rakyat miskin negara itu dan kelas pekerja pedesaan. Unjuk-unjukrasa massa, sering dengan pertumpahan darah berulang-ulang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini, dengan kelompok "Baju Kuning" yang nasionalis ultra-royalis" dan seteru mereka "Baju Merah" yang pro-Thaksin di jalan-jalan ibu kota Bangkok. Satu usaha untuk memberlakukan rancangan undang-undang amnesti tahun lalu gagal setelah kelompok Baju Kuning dan kaum ultra nasionalis-- yang mendukung Partai Demokrat yang oposisi -- melakukan unjuk rasa dekat gedung parlemen. Para pemrotes Demokrat melakukaa unjuk rasa sepanjang malam beberapa kilometer dari parlemen. Satu unjuk rasa anti-pemerintah oleh Tentara Rakyat Thailand juga terjadi sejak Ahad di satu taman di tengah ibu kota itu, yang diikuti ratusan orang setengah baya. (*/sun)