Teluk Subic, Filipina, (Antara/AFP) - Filipina berjanji meningkatkan ronda laut, sementara menerima kapal perang kedua dari Amerika Serikat untuk memperkuat pertahanannya dalam sengketa bahari dengan China. Presiden Benigno Aquino memimpin angkatan laut menyambut kapal BRP Ramon Alcaraz, kapal kelas Hamilton, yang tidak dipakai lagi oleh angkatan laut AS dan diberikan kepada Manila. Kapal itu ditempatkan di Subic, bekas pangkalan angkatan laut Amerika di pantai barat pulau Luzon menghadap Laut China Selatan di manaa Filipina terlibat sengketa wilayah dengan China. "Kini BRP Alcaraz telah tiba, kita akan meningkatkan patroli kita di zona ekonomi ekslusif Filipina," kata Aquino dalam pidato sementara utusan AS untuk Manila dan mendapat sambutan tepuk tangan para pejabat lainnya. "Kapal itu juga akan meningkatkan kemampuan kita untuk melawan setiap ancaman," katanya. Aquino tidak menyebut secara langsung nama China, yang mengklaim Laut China Selatan yang juga diklaim Filipina dan negara-negara lainnya. Alcaraz, nama yang diambil dari seorang komodor Filipina dan pahlawan dalam Perang Dunia II yang menggempur pesawat tempur Jepang, adalah kapal perang kedua yang diterima Filipina dari sekutu dekatnya Amerika Serikat dalam tahun-tahun belakangan ini,yang dapat meningkatkan kemampuan militernya. Yang pertama adalah kapal BRP Gregorio del Pilar, diperoleh tahun 2011 dan segera dikirim mematroli perairan negara itu untuk menghadapi apa yang disebut pemerintah militerisasi China yang meningkat atas perairan yang disengketakan itu. Pada 2012, Gregorio del Pilar berhadapan dengan kapal-kapal China dalam satu ketegangan yang di Beting Scarborough dekat Subic. China akhirnya menguasai beting itu setelah Filipina mundur. Alcaraz yang berbobot mati 3.250ton dapa menghadapi gelombang kuat dapat tinggal lebih lama di laut ketimbang kapal-kapal sekarang, yang memungkinkan patroli yang lebih luas, kata angkatan laut. Militer Filipina dianggap paling lemah di kawasan Asia Tenggara dan sedang berusaha meminta bantuan AS untuk meningkatkan kemampuannya. Pemerintah pekan lalu mengatakan bantuan militer AS untuk Manila akan meningkat lebih dari 60 persen menjadi 50 juta dolar AS tahun in, dengan kemungkinan akan memperoleh satu kapal angkatan laut ketiga. Pasukan AS dalam jumlah keci akan ditempatkan secara bergilir untuk melatih tentara di Filipina, kendatipun departemen pertahanan baru-baru ini mengatakan pihaknya telah melakukan perundingan dengan sejawat-sejawat Amerikanya bagi penggunaan bersama pangkalan-pangkalan Filipina. Pesawat pengintai P3 Orion milik angkatan laut Amerika Serikat juga membantu Filipina mengumpulkan informasi intelijen di Laut China Selatan. China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan walaupun perairan itu dekat negara-negara tetangganya. Sengketa itu telah lama dianggap satu titik pemicu konflik di kawasan itu. Subic, bersama dengan pangkalan udara Clark telah lama menjadi fasilitas-fasilitas militer AS, memegang peran penting dari perang Dunia II sampai Perang Vietnam dan selama Perang Dingin. Senat Filipina pada tahun 1991 memutuskan menutup pangkalan-pangkalan-pangkalan AS di negara itu. (*/jno)