Sawit Rakyat di Riau Raih Sertifikat RSPO
Minggu, 4 Agustus 2013 12:07 WIB
Kebun kelapa sawit. (Antara)
Pekanbaru, (Antara) - Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah di Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan, Riau, memperoleh sertifikat dari "Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO)" untuk pengelolaan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan.
"Ini adalah pertama kali kebun sawit yang dikelola rakyat secara swadaya di Indonesia mendapat sertifikasi RSPO, dan kedua di dunia" kata Humas WWF Program Riau, Syamsidar, di Pekanbaru, Minggu.
Ia mengatakan, sertifikat tersebut dikeluarkan RSPO untuk kebun petani tersebut pada 29 Juli 2013.
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, lebih dari 40 persen total produksi kelapa sawit Indonesia berasal dari perkebunan rakyat. Spesifik di Riau, sekitar 1,1 juta hektar lahan kebun kelapa sawit dikelola oleh petani, dimana 76 persen diantaranya dikelola oleh petani swadaya.
Menurut Syamsidar, salah satu hambatan terbesar bagi petani untuk menuju pengelolaan berkelanjutan adalah kurangnya informasi dan pemahaman mengenai teknologi pertanian.
Alternatif untuk mengatasi hambatan tersebut adalah melalui peningkatan pengetahuan dan produktivitas petani swadaya. Melalui upaya ini diharapkan perluasan lahan kebun sawit dengan cara tidak lestari dapat ditekan.
"Kami mendapat informasi, produktivitas panen sawit rakyat telah meningkat setelah mengikuti cara-cara ramah lingkungan sesuai kriteria RSPO," ujarnya.
Secara terpisah, CEO dari WWF-Indonesia Dr. Efransjah, mengatakan WWF-Indonesia memandang petani swadaya sebagai bagian penting dalam industri sawit di Indonesia. Ia mengharapkan program sertifikasi RSPO yang ditempuh Asosiasi Amanah dapat diadopsi lebih luas dan menjadi contoh pengelolaan kebun sawit yang berkelanjutan bagi petani swadaya lainnya di Indonesia.
Dengan dukungan dari Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah Riau, RSPO, dan WWF-Indonesia memfasilitasi pembentukan Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah sebagai perintis sertifikasi RSPO bagi petani swadaya, setelah melalui proses identifikasi yang dilakukan sejak 2011. Program itu juga turut didukung oleh pihak swasta, yakni Carrefour Foundation International dan PT. Inti Indosawit Subur dari Asian Agri.
Sebanyak 349 petani swadaya yang memiliki lahan lebih dari 763 hektare di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo bergabung dengan Asosiasi Amanah.
Dalam siaran persnya, Sekretaris Jenderal RSPO Darrel Webber mengaku menyambut baik pencapaian proyek petani swadaya di Indonesia, dimana petani berkontribusi sebesar 40 persen dari produksi kelapa sawit nasional.
"Aktivitas petani swadaya yang berhubungan langsung dengan sumber daya alam, dinilai sudah selayaknya mereka perlu memahami manfaat sertifikasi, misalnya akses terhadap permintaan internasional untuk kelapa sawit berkelanjutan, serta manfaat jangka panjang seperti efisiensi produksi, peningkatan produktivitas dan biaya pengelolaan yang efektif," kata Darrel Webber. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dapat hibah lahan dari keluarga Dony Oskaria, Sekolah Rakyat di Tanjung Alam disetujui Kemensos
25 February 2026 18:04 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018