BI: Juli Puncak Inflasi 2013
Kamis, 1 Agustus 2013 20:07 WIB
Bank Idonesia. (Antara)
Jakarta, (Antara) - Bank Idonesia menyatakan Juli merupakan puncak inflasi pada 2013 dengan inflasi indeks harga konsumen (IHK) yang meningkat tinggi hingga 3,2 persen (mtm), melebihi perkiraan Bank Indonesia sebesar 2,7 persen (mtm).
Tingginya tekanan inflasi, terutama disebabkan oleh gangguan pasokan sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah, cabai, daging ayam, dan daging sapi, di tengah kenaikan permintaan musiman Ramadan. Hal ini menyebabkan inflasi bulanan kelompok volatile food meningkat hampir tiga kali di atas perkiraan sebelumnya sehingga mencapai 6,07 persen (mtm) atau 16,12 persen (yoy).
Untuk dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap harga bensin dan solar serta tarif angkutan sudah mencapai puncaknya pada bulan Juli dan menyumbang hampir separuh dari realisasi inflasi IHK.
Dengan perkembangan tersebut, inflasi administered prices mencapai 7,90 persen (mtm) atau 15,10 persen (yoy).
Sementara itu, inflasi inti masih relatif terjaga meskipun meningkat mencapai 0,99 persen (mtm) atau 4,44 persen (yoy), didukung oleh harga komoditas global yang menurun dan permintaan yang terkendali.
BI menyatakan dalam siaran persnya, ke depan inflasi diperkirakan akan mereda dan kembali pada pola normalnya.
Inflasi IHK diperkirakan akan turun ke sekitar 0,9 persen (mtm) pada bulan Agustus dan sekitar 0,1 persen (mtm) pada September 2013.
Penurunan inflasi didorong pengaruh positif kebijakan pemerintah untuk mempercepat dan menambah kuota impor daging sapi dan menambah pintu masuk impor bawang merah melalui Jawa.
Selain itu, penurunan inflasi juga dipengaruhi oleh meredanya dampak kenaikan harga BBM dan kembali normalnya permintaan setelah Lebaran.
Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama Pemerintah baik di tingkat pusat dan daerah dengan fokus pada upaya menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan.
Dengan berbagai langkah tersebut, inflasi IHK akan dapat dijaga dan secara bertahap terus menurun mencapai kisaran sasaran inflasi sebesar 4,5 persen kurang lebih satu persen pada tahun 2014.
Sementara itu, realisasi neraca perdagangan Indonesia Juni 2013 secara umum masih searah dengan prakiraan Bank Indonesia. Berdasarkan rilis BPS hari ini, defisit neraca perdagangan tercatat 0,8 miliar dolar AS, lebih besar daripada defisit pada Mei 2013 sebesar 0,5 miliar dolar AS.
Peningkatan defisit dipengaruhi oleh lebih besarnya penurunan ekspor dibandingkan penurunan impor. Pertumbuhan ekspor secara bulanan terkontraksi sebesar 8,6 persen (mtm), sedangkan pertumbuhan impor terkontraksi lebih rendah sebesar 6,4 persen (mtm).
Penurunan ekspor dipengaruhi pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas ekspor yang belum kuat, terutama pada ekspor kelompok barang tambang (batubara, tembaga, dan nikel).
Sementara itu, penurunan impor khususnya terjadi pada kelompok bahan baku dan barang modal, tidak terlepas dari pengaruh tren perlambatan permintaan domestik dan permintaan ekspor. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026