Jakarta, (Antara) - Kementerian Perindustrian tengah melakukan pembicaraan dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk pengawetan bahan baku makanan. Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah di Jakarta, Selasa, mengatakan kerja sama kedua lembaga itu diharapkan mampu mengatur penawaran dan permintaan yang selama ini seringkali berbanding terbalik dan menimbulkan gejolak harga. "Kita lagi pembahasan, rencana habis Lebaran ada kunjungan ke sana, baru setelah itu kita coba untuk mendesain program 2014 untuk bidang itu seperti apa, lalu kita undang investor," katanya. Campur tangan investor, menurut Euis, diperlukan untuk mengimbangi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terbatas. "Jadi disamping APBN yang terbatas, investor juga diundang, karena memungkinkan adanya 'income' (pendapatan)," jelasnya. Euis menuturkan upaya pengawetan bahan makanan sebenarnya sudah dilakukan di Bekasi, Jawa Barat. Namun, kapasitasnya masih sangat terbatas meski diminati banyak pelaku usaha. "Produknya sendiri ada macam-macam, mulai dari bumbu kemas hingga sosis, makanya saya mau coba apa bakso bisa dibuat seperti itu," katanya. Ia berharap dengan sistem pengawetan yang baik, akan ada lebih banyak stok bahan baku makanan maupun makanan untuk memenuhi permintaan pasar. Batas masa kadaluarsa yang lebih panjang akan bisa menyokong industri, terutama bagi pelaku usaha yang telah memiliki pasar besar dengan sebaran luas. "Jadi yang biasanya hanya awet dua minggu nanti bisa dua bulan," katanya. (*/sun)