Gerilyawan Bunuh Saudara Penasihat Keamanan Nasional Afghanistan
Kamis, 18 Juli 2013 6:09 WIB
Herat, Afghanistan, (Antara/AFP) - Gerilyawan Rabu membunuh seorang saudara dari penasihat keamanan nasional Afghanistan Rangin Dadfar Spanta di luar pemandian umum di provinsi tempat asal keluarga itu yang biasanya relatif damai.
Taliban mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan Wali Jaan, seorang jaksa di kota kecil Karukh di Herat, provinsi di Afghanistan barat yang berbatasan dengan Iran.
"Hari ini sekitar pukul 08.30 (pukul 11.00 WIB) Wali Jaan, saudara dari Dr Spanta, ditembak mati. Ia diserang oleh dua orang yang naik sepeda-motor ketika ia keluar dari pemandian (umum)," kata juru bicara kepolisian Herat, Abdul Rauf Ahmadi, kepada AFP.
"Penyerang kemudian melarikan diri dari lokasi kejadian," tambahnya.
Kepala kepolisian Herat, Rahmatullah Safi, mengkonfirmasi pembunuhan itu namun tidak memberikan penjelasan terinci lebih lanjut.
Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengutuk pembunuhan itu dan menyalahkan "badan-badan intelijen asing" karena "berlanjutnya rangkaian pembunuhan".
Juru bicara Taliban, Yousuf Ahmadi, menghubungi AFP dari sebuah lokasi yang tidak diketahui dan mengatakan, pihaknya bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
"Orang ini... yang bekerja untuk pemerintah selama empat tahun terakhir dibunuh dalam serangan gerilya oleh salah satu mujahidin kami di Herat," kata Ahmadi.
"Ia adalah pejabat penting pemerintah," tambahnya.
Spanta, salah satu orang paling berpengaruh dalam pemerintah Afghanistan dukungan Barat, menjabat sebagai menteri luar negeri sebelum menjadi penasihat keamanan nasional bagi Karzai.
Taliban pada April meluncurkan "ofensif musim semi" tahunan mereka dengan janji melancarkan serangan-serangan bom bunuh diri untuk menimbulkan korban maksimum dan memperingatkan warga Afghanistan yang bekerja untuk pemerintah agar menjauh.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara dikirim ke Afghanistan untuk membantu pemerintah Kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.
Pada Oktober 2011, Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afghanistan.
Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014, namun Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afghanistan. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Komisi III DPR tolak hukuman mati ayah bunuh pelaku pelecehan anaknya di Pariaman
11 February 2026 10:19 WIB
Momen BRI Super League pekan ke-13, hasil pertandingan, rekor hingga gol bunuh diri
24 November 2025 9:38 WIB
RSAM Bukittinggi klarifikasi dugaan pasien meninggal bunuh diri, evaluasi bukti CCTV
25 September 2025 12:21 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018