Khartoum, (Antara/AFP) - Sebuah kelompok gerilya di Darfur, Sudan, Minggu menuduh milisi yang terkait dengan pemerintah melancarkan serangan yang menewaskan tujuh prajurit penjaga perdamaian PBB dan mencederai 17 lain. "Kami yakin bahwa aksi itu dilakukan oleh milisi pemerintah karena milisi itu ditempatkan di daerah Khor Abeche," kata Abdullah Moursal, juru bicara kelompok gerilya Tentara Pembebasan Sudan kubu Minni Minnawi. "Daerah ini dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah," katanya. Misi PBB-Uni Afrika di Darfur (UNAMID) mengatakan, serangan yang dilakukan oleh "sebuah kelompok besar tak dikenal" terjadi Sabtu sekitar 25 kilometer sebelah barat pangkalan UNAMID di Khor Abeche, sebelah utara Nyala, ibu kota Darfur Selatan. Selain menewaskan tujuh prajurit penjaga perdamaian asal Tanzania, serangan itu mencederai 17 personel militer dan polisi -- yang terburuk dalam sejarah lima tahun UNAMID. Pemberontak berperang melawan pemerintah Sudan di Darfur selama satu dasawarsa, namun UNAMID mengatakan, bentrokan-bentrokan antar-etnik bertanggung jawab atas sebagian besar kekerasan yang memburuk di Darfur tahun ini. PBB mengatakan, lebih dari 300.000 orang tewas sejak konflik meletus di wilayah Darfur pada 2003, ketika pemberontak etnik minoritas mengangkat senjata melawan pemerintah yang didominasi orang Arab untuk menuntut pembagian lebih besar atas sumber-sumber daya dan kekuasaan. Pemerintah Khartoum menyebut jumlah kematian hanya 10.000. Sebanyak 1,4 juta orang berada di kamp-kamp pengungsi di Darfur setelah meninggalkan rumah mereka selama konflik di wilayah Sudan barat itu. Pemerintah Sudan menandatangani sebuah perjanjian perdamaian sponsoran Qatar dengan sebuah aliansi kelompok pemberontak pada 2011, namun kelompok-kelompok besar menolaknya. Kubu Minni Minnawi dan kelompok gerilya utama Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM) menolak perjanjian itu, yang ditandatangani Sudan dan Gerakan Keadilan dan Kebebasan (LJM), sebuah kelompok pemberontak lain di Darfur. JEM adalah satu dari sejumlah kelompok Darfur yang memberontak pada 2003 untuk menuntut otonomi lebih luas bagi wilayah barat yang gersang itu. Mereka kini dianggap sebagai kelompok pemberontak yang paling kuat di Darfur. Perpecahan di kalangan pemberontak dan pertempuran yang terus berlangsung menjadi dua halangan utama bagi perundingan perdamaian yang berlangsung sejak 2003 di Chad, Nigeria dan Libya, sebelum pindah ke Doha. Bentrokan-bentrokan antara pasukan Sudan dan gerilyawan masih terus berlangsung di Darfur meski misi penjaga perdamaian terbesar dunia UNAMID ditempatkan di wilayah Sudah barat itu. Misi PBB-Uni Afrika di Darfur (UNAMID), yang kini berjumlah 23.500 orang dan merupakan misi penjaga perdamaian terbesar di dunia, ditempatkan di Darfur, Sudan barat, sejak 2007 untuk berusaha mengakhiri permusuhan antara pemberontak dan pemerintah Sudan. (*/sun)