Jakarta, (Antara) - Jusuf Kalla menilai adanya kemungkinan kelalaian yang tinggi dalam pengamanan dinamit yang hilang Kamis (27/6) di perjalanan dari Subang ke Bogor. "Memang kekurangan pengawalan, empat truk tapi pengawalan hanya dua orang (petugas) ya pasti kekurangan pengawalan. Kalau penjagaan kurang, kemungkinan lalai pasti tinggi sekali," kata Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu usai upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-67 di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, Senin. Menurut Kalla, pengamanan oleh dua petugas untuk empat truk pembawa bahan peledak yang berbahaya itu sangat kurang, apalagi pengiriman dilakukan tengah malam. Hingga saat ini, Mabes Polri bersama Polda Jabar dan Polda Metro Jaya terus melakukan penyelidikan atas hilangnya 250 batang dinamit itu. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F Sompie mengatakan pihaknya telah memeriksa sebanyak 15 orang saksi yang diduga mengetahui dan dapat memberikan keterangan mengenai hilangnya dinamit. "Diperiksa 15 orang di antaranya pengemudi truk, kondektur, pegawai perusahaan penerima dan pengirim, di Polda Jabar," katanya. Sementara daya ledak dinamit yang dicuri itu diperkirakan "low explosion" dan tidak disertai detonator. Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak dua boks berisi 250 batang dinamit diketahui hilang, setelah supir memeriksa penutup truk dalam kondisi rusak dan terbuka di Bogor, Kamis (27/6) pagi. Truk bernomor polisi T-8952 bersama tiga truk lainnya mengambil dinamit milik PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) dari Gudang Bahan Peledak Kalijati Subang, Jawa Barat, pada Rabu (26/6). Rencananya, peledak berbahan dasar amonium nitrat tersebut akan diantarkan ke PT Batu Sarana Persada (BSP) yang berlokasi di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Diketahui truk pembawa dinamit itu sempat lima kali berhenti, di antaranya karena macet dan ganti ban serta sempat transit di Marunda, Jakarta. (*/sun)