Presiden Ekuador Berbicara dengan Wapres AS Soal Snowden
Minggu, 30 Juni 2013 6:43 WIB
Aromo, Ekuador, (Antara/AFP) - Presiden Ekuador Rafael Correa, Sabtu, mengatakan dirinya telah berbicara dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden tentang Edward Snowden.
Correa juga mengatakan bahwa Wapres AS itu meminta Ekuador untuk menolak permintaan suaka yang diajukan oleh sang pembocor rahasia intelijen yang jadi buronan AS itu.
Correa mengatakan Ekuador akan melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat sebelum mengambil keputusan namun pada akhirnya semua akan tergantung pada pemerintah Ekuador apakah pihaknya akan memberikan suaka bagi Snowden atau tidak.
Snowden telah melakukan pembocoran informasi yang menggegerkan tentang pengintaian rahasia yang dilakukan AS terhadap catatan pembicaraan telepon serta lalu lintas informasi di internet.
Correa mengatakan bahwa pembicaraan berlangsung hari Jumat, yaitu ketika Biden menelepon dan menyampaikan permintaan dengan sopan dari Amerika Serikat agar Ekuador menolak permintaan suaka Snowden.
Correa mengungkapkan apa yang dikatakannya kepada Biden, "Bapak Wakil Presiden, terima kasih atas teleponnya. Kami sangat menghormati Amerika Serikat. Kami tidak ingin berada pada situasi ini. Kami tidak mengerti adanya pemikiran bahwa kami anti-Amerika, seperti yang digambarkan oleh perusahaan-perusahaan media yang berniat buruk."
Correa mengatakan ia menjelaskan kepada Biden bahwa Ekuador tidak bisa memproses permintaan suaka Snowden karena ia tidak secara fisik berada di negara Amerika Selatan itu.
"Kalau ia datang ke wilayah Ekuador, kalau dia melakukannya, dan kami harus memproses permintaan tersebut, pihak pertama yang akan kami perlukan pandangannya adalah Amerika Serikat," ujarnya.
Correa memberikan pernyataan tentang kasus Snowden dalam pidato mingguan kepada rakyat Ekuador, yang kali ini disampaikannya dari kota tepi pantai, Aromo.
Snowden, yang saat ini bertahan di wilayah transit sebuah bandar udara di Moskow setelah meninggalkan Hong Kong, meminta suaka kepada Ekuador pada pekan lalu.
Ekuador telah memberikan suaka bagi pendiri Wikileaks Julian Assange di kedutaan besarnya di London dalam satu tahun terakhir ini.
Correa mengatakan, Sabtu, Ekuador akan menjalankan prosedur yang sama seperti sebelumnya.
"Seperti yang kita lakukan terhadap kasus Assange dengan Inggris, kita akan menyimak harapan semua orang namun keputusan akan berada di tangan kita sebagai bangsa berdaulat. Tapi tentunya dengan mempertimbangkan rasa sayang dan rasa hormat kepada Amerika Serikat, kita akan sangat memperhatikan apa yang akan dikatakan negara tersebut (AS, red)," kata Correa.
Correa mengatakan pembicaraan dengan Biden berlangsung dengan "cukup sopan dan bahkan menurut saya ramah."
Ia mengatakan program pengintaian telepon dan internet yang diungkapkan oleh Snowden, bekas pekerja kontrak di Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA, merupakan kasus spionase terbesar dalam sejarah.
Apa yang perlu dilakukan oleh Amerika Serikat, kata Correa, adalah menjelaskan tentang program rahasia itu daripada memusatkan perhatian untuk menangkap Snowden dan "mengobrak-abrik presiden, pemerintah atau negara yang berani mengatakan akan memproses permintaan suaka jika menerima permintaan tersebut". (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Senegal ke 16 besar Piala Dunia dampingi Belanda usai menang 2-1 lawan Ekuador
30 November 2022 6:08 WIB, 2022
Preview Piala Dunia 2022, Ekuador di ambang mengulangi pencapaian terbesar hadapi Senegal
29 November 2022 8:41 WIB, 2022
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018