Ada jamur Bintang ditemukan di Cagar Alam Maninjau, Agam
Minggu, 31 Oktober 2021 11:49 WIB
Jamur bintang hidup kawasan Cagar Alam Maninjau, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. (Antara/BKSDA)
Lubukbasung, (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melalui Resor Agam menemukan tumbuhan unik dan langka jenis jamur bintang (geastrum saccatum) di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau, Nagari Baringin Kecamatan Palembayan, Agam.
"Penemuan jamur unik diketahui ketika petugas BKSDA sedang melaksanakan kegiatan praktik lapangan patroli pengamanan hutan bagi peserta pelatihan dan pembentukan tim patroli anak nagari (Pagari) nagari setempat," kata Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Minggu.
Ia mengatakan, jamur yang biasa hidup soliter ini ditemukan tidak jauh dari titik sebaran populasi bunga Rafflesia tuan-mudae yang pernah mekar dengan ukuran diameter terbesar di dunia yang pernah tercatat dan terdokumentasikan pada awal Januari 2020.
Jamur Geastrum sendiri berasal dari kata Geo yang berarti bumi dan Astrum yang berarti bintang, sehingga dikatakan sebagai jamur bintang bumi. Jamur ini juga memiliki sebutan sebagai jamur perut (stomach fungi) dikarenakan perkembangannya yang menyerupai bola atau perut pada fase mudanya.
Jamur ini menyukai habitat subur dan lembab di bawah naungan pohon. Tidak seperti jamur pada umumnya yang hidup mengelompok, jenis geastrum cenderung tumbuh soliter dan belum pernah ditemui mengelompok.
"Sifatnya yang soliter ini semakin membuatnya sulit ditemukan," katanya
Jamur ini merupakan kelompok jamur yang bergaya hidup saprofit (mendapatkan makanan dari organisme yang telah mati), walaupun beberapa laporan terbaru menyebutkan bahwa sebagian dari kelompok jamur bintang bumi menjadi partner pada jenis tumbuhan tertentu untuk membentuk mikoriza (simbiosis mutualisme antara akar tumbuhan dan jamur).
Penampilannya seperti bintang, membuat para biologist menjulukinya sebagai jamur bintang tanah “Earthstar mushroom”.
Berbentuk seperti kembang, berukuran kecil, membulat dengan kantong spora yang bulat seperti kelereng dan sisi luar yang terbelah menjadi 4-8 bagian.
Geastrum saccatum merupakan salah satu jamur yang memiliki bentuk menarik dan cantik namun tidak dapat dikonsumsi. Masyarakat luas mengenalnya sebagai jamur yang tidak dimakan karena beracun.
"Kesan beracun makin terlihat ketika jamur ini sesekali jamur ini akan mengeluarkan spora yang berwarna hitam dan mengepul seperti asap yang keluar dari kantong spora," katanya.
Ia menambahkan, jamur bintang bumi (Earthstar mushroom) merupakan kelompok jamur dari Filum Basidiomycota dan Famili Geastraceae. Berdasarkan catatan Index Fungorum, jamur bintang bumi atau yang dikenal juga sebagai Geastrum memiliki lebih dari 300 spesies yang terdata hingga saat ini dari seluruh dunia.
Jamur bintang bumi memiliki persebaran yang luas dan bisa ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia terutama di Amerika Utara dan Eropa. Di Indonesia, jamur ini bisa anda temukan terutama pada tumpukan sarasah di lantai hutan, di tanah, dan pada tumpukan serasah bambu.
Pernah dilaporkan jamur ini dijumpai didaerah Kalimantan Timur, Jawa Barat dan Sumatera Barat.
Di Sumatera Barat, jamur ini dapat di jumpai di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, Nagari Koto Gadang VI Koto Kecamatan Tanjungraya dan Kecamatan Palupuh.
"Tidak tertutup kemungkinan dapat dijumpai di daerah lainnya," katanya.
"Penemuan jamur unik diketahui ketika petugas BKSDA sedang melaksanakan kegiatan praktik lapangan patroli pengamanan hutan bagi peserta pelatihan dan pembentukan tim patroli anak nagari (Pagari) nagari setempat," kata Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Minggu.
Ia mengatakan, jamur yang biasa hidup soliter ini ditemukan tidak jauh dari titik sebaran populasi bunga Rafflesia tuan-mudae yang pernah mekar dengan ukuran diameter terbesar di dunia yang pernah tercatat dan terdokumentasikan pada awal Januari 2020.
Jamur Geastrum sendiri berasal dari kata Geo yang berarti bumi dan Astrum yang berarti bintang, sehingga dikatakan sebagai jamur bintang bumi. Jamur ini juga memiliki sebutan sebagai jamur perut (stomach fungi) dikarenakan perkembangannya yang menyerupai bola atau perut pada fase mudanya.
Jamur ini menyukai habitat subur dan lembab di bawah naungan pohon. Tidak seperti jamur pada umumnya yang hidup mengelompok, jenis geastrum cenderung tumbuh soliter dan belum pernah ditemui mengelompok.
"Sifatnya yang soliter ini semakin membuatnya sulit ditemukan," katanya
Jamur ini merupakan kelompok jamur yang bergaya hidup saprofit (mendapatkan makanan dari organisme yang telah mati), walaupun beberapa laporan terbaru menyebutkan bahwa sebagian dari kelompok jamur bintang bumi menjadi partner pada jenis tumbuhan tertentu untuk membentuk mikoriza (simbiosis mutualisme antara akar tumbuhan dan jamur).
Penampilannya seperti bintang, membuat para biologist menjulukinya sebagai jamur bintang tanah “Earthstar mushroom”.
Berbentuk seperti kembang, berukuran kecil, membulat dengan kantong spora yang bulat seperti kelereng dan sisi luar yang terbelah menjadi 4-8 bagian.
Geastrum saccatum merupakan salah satu jamur yang memiliki bentuk menarik dan cantik namun tidak dapat dikonsumsi. Masyarakat luas mengenalnya sebagai jamur yang tidak dimakan karena beracun.
"Kesan beracun makin terlihat ketika jamur ini sesekali jamur ini akan mengeluarkan spora yang berwarna hitam dan mengepul seperti asap yang keluar dari kantong spora," katanya.
Ia menambahkan, jamur bintang bumi (Earthstar mushroom) merupakan kelompok jamur dari Filum Basidiomycota dan Famili Geastraceae. Berdasarkan catatan Index Fungorum, jamur bintang bumi atau yang dikenal juga sebagai Geastrum memiliki lebih dari 300 spesies yang terdata hingga saat ini dari seluruh dunia.
Jamur bintang bumi memiliki persebaran yang luas dan bisa ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia terutama di Amerika Utara dan Eropa. Di Indonesia, jamur ini bisa anda temukan terutama pada tumpukan sarasah di lantai hutan, di tanah, dan pada tumpukan serasah bambu.
Pernah dilaporkan jamur ini dijumpai didaerah Kalimantan Timur, Jawa Barat dan Sumatera Barat.
Di Sumatera Barat, jamur ini dapat di jumpai di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, Nagari Koto Gadang VI Koto Kecamatan Tanjungraya dan Kecamatan Palupuh.
"Tidak tertutup kemungkinan dapat dijumpai di daerah lainnya," katanya.
Pewarta : Yusrizal
Editor : Ikhwan Wahyudi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Elnusa Petrofin bersama kelompok usaha Yasmin kembangkan Budidaya Jamur Tiram Di Tapanuli Tengah
15 May 2024 16:07 WIB, 2024
PkM Unand memanfaatkan prospek jamur tiram jadi mie di KWT Limau Manis Sejahtera
26 November 2023 12:35 WIB, 2023
Pemkab Pasaman Barat dorong masyarakat kembangkan budidaya jamur tiram
13 October 2023 13:14 WIB, 2023
Pendampingan Pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) Demi Tingkatkan Aspek Legal Usaha Budidaya Jamur Tiram "KWT LMS", Mitra Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNAND
16 December 2022 11:18 WIB, 2022
Dukung Pengembangan Produk Olahan Jamur Tiram, Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNAND Serahkan Bantuan Alat Chopper untuk "KWT LMS"
15 December 2022 10:50 WIB, 2022