Lubukbasung, (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melalui Resor Agam menemukan tumbuhan unik dan langka jenis jamur bintang (geastrum saccatum) di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau, Nagari Baringin Kecamatan Palembayan, Agam.

"Penemuan jamur unik diketahui ketika petugas  BKSDA sedang melaksanakan kegiatan praktik lapangan patroli pengamanan hutan bagi peserta pelatihan dan pembentukan tim patroli anak nagari (Pagari) nagari setempat," kata Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Minggu.

Ia mengatakan, jamur yang biasa hidup soliter ini ditemukan tidak jauh dari titik sebaran populasi bunga Rafflesia tuan-mudae yang pernah mekar dengan ukuran diameter terbesar di dunia yang pernah tercatat dan terdokumentasikan pada awal Januari 2020.

Jamur Geastrum sendiri berasal dari kata Geo yang berarti bumi dan Astrum yang berarti bintang, sehingga dikatakan sebagai jamur bintang bumi. Jamur ini juga memiliki sebutan sebagai jamur perut (stomach fungi) dikarenakan perkembangannya yang menyerupai bola atau perut pada fase mudanya.

Jamur ini menyukai habitat subur dan lembab di bawah naungan pohon. Tidak seperti jamur pada umumnya yang hidup mengelompok, jenis geastrum cenderung tumbuh soliter dan belum pernah ditemui mengelompok. 

"Sifatnya yang soliter ini semakin membuatnya sulit ditemukan," katanya 

Jamur ini merupakan kelompok jamur yang bergaya hidup saprofit (mendapatkan makanan dari organisme yang telah mati), walaupun beberapa laporan terbaru menyebutkan bahwa sebagian dari kelompok jamur bintang bumi menjadi partner pada jenis tumbuhan tertentu untuk membentuk mikoriza (simbiosis mutualisme antara akar tumbuhan dan jamur).

Penampilannya seperti bintang, membuat para biologist menjulukinya sebagai jamur bintang tanah “Earthstar mushroom”. 

Berbentuk seperti kembang, berukuran  kecil, membulat dengan kantong spora yang bulat seperti kelereng dan  sisi luar yang terbelah  menjadi 4-8 bagian.

Geastrum saccatum merupakan salah satu jamur yang memiliki bentuk menarik dan cantik namun tidak dapat dikonsumsi. Masyarakat luas mengenalnya sebagai jamur yang tidak dimakan karena beracun. 

"Kesan beracun makin terlihat ketika jamur ini sesekali jamur ini akan mengeluarkan spora yang berwarna hitam dan mengepul seperti asap yang keluar dari kantong spora," katanya.

Ia menambahkan, jamur bintang bumi (Earthstar mushroom) merupakan kelompok jamur dari Filum Basidiomycota dan Famili Geastraceae. Berdasarkan catatan Index Fungorum, jamur bintang bumi atau yang dikenal juga sebagai Geastrum memiliki lebih dari 300 spesies yang terdata hingga saat ini dari seluruh dunia.

Jamur bintang bumi memiliki persebaran yang luas dan bisa ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia terutama di Amerika Utara dan Eropa. Di Indonesia, jamur ini bisa anda temukan terutama pada tumpukan sarasah di lantai hutan, di tanah, dan pada tumpukan serasah bambu.

Pernah dilaporkan jamur ini dijumpai didaerah Kalimantan Timur, Jawa Barat dan Sumatera Barat.

Di Sumatera Barat, jamur ini dapat di jumpai di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, Nagari Koto Gadang VI Koto Kecamatan Tanjungraya dan Kecamatan Palupuh. 

"Tidak tertutup kemungkinan dapat dijumpai di daerah lainnya," katanya.