Jakarta, (Antara) - Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat mengatakan Islam sudah mengakar kuat dalam pergerakan dan politik Indonesia sehingga Islam tidak bisa dipisahkan dari politik praktis. "Tradisi pergerakan sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Tradisi partisipasi dan berserikat mengakar kuat dalam pergerakan termasuk melalui organisasi kemasyarakatan Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah," kata Komaruddin Hidayat di Jakarta, Kamis. Dengan fenomena itu, kata Komaruddin, Indonesia menjadi salah satu laboratorium politik besar di dunia untuk melihat eksperimentasi demokrasi. Demokrasi Indonesia berbeda dengan di Barat yang berkultur Protestan dan India yang berkultur Hindu. Menurut Komaruddin, dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam, suara kelompok tersebut sangat signifikan dalam demokrasi. Namun, simbol-simbol Islam saat ini sudah tidak lagi efektif untuk menjaring massa dan suara pemilih. "Suara partai Islam dan partai-partai agama saat ini sudah menurun. Bahkan, partai nasionalis yang sekuler pun sudah mengakomodasi simbol-simbol agama. Mengutip Nurcholis Madjid, 'Islam yes, partai Islam no'," tuturnya. Komaruddin Hidayat menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Gambaran Ekonomi dan Politik Indonesia 2013 "Lanskap Prapemilu: Tantangan dan Kesempatan" yang diadakan Citi Indonesia di salah satu hotel di Jakarta. Seminar Gambaran Ekonomi dan Politik Indonesia adalah seminar tahunan yang diadakan Citi Indonesia bagi klien-klien perusahaan dan ritelnya. Selain Komaruddin Hidayat, pembicara lainnya adalah Kepala Biro Perekonomian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Adi Ariantara dan Kepala Analisis Pasar dan Ekonomi Asia Pasifik Citigroup Global Market Asia Johanna Chua. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Chatib Basri hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar tersebut. (*/sun)

Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026