Paris, (Antara/AFP) - Menteri utama penting Prancis pada Senin memperingatkan tidak memrovokasi Jerman, setelah Partai Sosialis menuduh Kanselir Angela Merkel "egois" dalam upayanya menerapkan kebijakan "penghematan" di wilayah Eropa. Kebijakan "penghematan" dalam ilmu ekonomi mengacu pada langkah pemerintah mengurangi defisit anggaran saat ekonomi bergejolak. Sejumlah pejabat senior pemerintahan memilih untuk menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut dengan Berlin terkait kebocoroan dokumen Partai Sosilis tentang Eropa, mengingat hubungan Prancis-Jerman yang telah berada di titik paling rendah dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Luar Negeri Laurent Fabius menyatakan meskipun pemerintahan Presiden Francois Hollande siap meladeni debat terkait kebijakan ekonomi Eropa, perlu dihindari kemungkinan yang berpotensi memulai konflik terbuka. "Debat iya, adu mulut tidak. Tentu tidak wajar mempertanyakan kepemimpinan seseorang," kata Fabius di stasiun radio Europe 1, "Tidak ada alasan untuk mengadu satu negara dengan yang lainnya." Sebuah rancangan dokumen yang bocor pada Jumat menyebutkan Partai Sosialis Hollande menyerang Merkel atas sikapnya bersikeras mengajukan kebijakan "austerity" sebagai solusi krisis hutang di Eropa. Dokumen tersebut menuduh Merkel, yang dikenal konsevatif dan akan mengahadapi pemilihan umum pada 22 September mendatang, memiliki obsesi mengutamakan "keseimbangan perdagangan Berlin dan peluangnya dalam pemilihan umum". Petinggi Partai Sosialis baru-baru ini juga mencetuskan "konfrontasi" terhadap Berlin untuk mendorong upaya Prancis dalam berkonsentrasi terhadap pertimbangan pertumbuhan ekonomi ketimbang kebijakan "austerity". Menteri Keuangan Pierre Moscovici menyatakan bahwa "serangan" terhadap Jerman tidak akan berakibat baik. "Ide bahwa harus ada 'konfrontasi' dengan Jerman adalah sesat dan kontraproduktif," kata Moscovici kepada harian Le Monde. "Kami tidak bisa mengharapkan kemajuan melalui penghakiman, pelabelan atapun pengkotak-kotakan," kata dia sembari menambahkan bahwa sikap semacam itu merupakan "jalan cepat menjeput ajal". Perdana Menteri Jean-Marc Ayrault juga bersikeras untuk berpegang pada "persahabatan Prancis-Jerman", dengan mengatakan kepada harian "La Depeche du Midi" bahwa "seperti layaknya semua persahabatan lain, tidak luput dari perdebatan ide-ide." Juru bicara pemerintah Jerman Steffen Seibert pada Senin mengatakan hubungan antara Jerman dan Prancis merupakan sesuatu yang "hakiki" dan yang paling penting bagi Berlin adalah tindakan dari pemerintah Prancis. Meski demikian sejumlah media di Jerman mengatakan dokumen yang bocor tersebut memperlihatkan keluh kesah Prancis akibat kehilangan pengaruhnya di Eropa. "Kaum Sosilais sempat menjanjikan akan membuka jalan bagi Eropa. Setahun setelah mereka memasuki Elysee (kompleks kepresidenan Prancis), hal ini terdengar seperti lelucon," demikian ditulis Berliner Zeitung. Sejumlah pejabat Sosilas bersikeras bahwa dokumen yang bocor masih dalam pembahasan dan tidak mewakili pandangan resmi Partai. "Rancangan tersebut tidak dimaksudkan untuk terkuak di media," kata Sekretaris Hubungan Eropa Partai Sosialis, Jean-Christophe Cambadelis, dalam wawancara di stasiun televisi LCI. "Apabila kami mengetahui siapa yang memberikan rancangan tersebut kepada media, saya akan meminta mereka untuk dikeluarkan dari Partai Sosialis," ujar dia menambahkan. Kebocoran tersebut muncul setelah beberapa bulan terakhir kubu kiri Sosialis mencibir Hollande dengan menuduhnya tidak terlalu tegas dan berkekuatan saat bernegosiasi dengan Merkel. Hollande mendapati tingkat popularitas paling rendah setelah satu tahun memegang tampuk kekuasaan, sementara sejumlah rekannya mengatakan Presiden belum melakukan hal yang cukup untuk mendorong prioritas Partai Sosialis. Hubungan Prancis-Jerman tergolong adem ayem saja semenjak tahun lalu saat Hollande mengambil alih kepemimpinan dari tokoh sayap kanan Nicolas Sarkozy, yang menikmati hubungan "mesra" dengan Merkel. Sejumlah tokoh Partai UMP pada Senin menuduh Hollande "bertanggung jawab" atas "degradasi hubungan Prancis-Jerman". Dalam sebuah pernyataan bersama, Ketua Partai UMP Jean-Francois Cope dan mantan Perdana Menteri Francois Fillom mencela "iklim anti-Jerman yang menguat di tubuh Partai Sosialis" dan menuduh Hollande mencari cara untuk mengisolasi Merkel dari Eropa. (*/sun)