Kirkuk, Irak, (Antara/AFP) - Bentrokan pasukan keamanan dengan penentang pemerintah di Irak utara pada Selasa menewaskan 27 orang dan melukai sekitar 70 lagi. Bentrokan itu adalah kekerasan terbaru pasukan keamanan dengan demonstran dalam beberapa bulan belakangan dan dapat meningkatkan ketegangan lebih jauh pemrotes dengan pemerintah. Perkelahian itu meletus sekitar pukul 05.00 waktu setempat (09.00 WIB) ketika pasukan keamanan memasuki satu daerah terbuka di Haijah, barat Kirkuk, tempat para demonstran melakukan aksi mereka sejak Januari, kata peara perwira tinggi. Salah seorang dari para perwira itu, brigadir jenderal dari divisi yang bertanggung jawab atas daerah itu, mengatakan operasi itu ditujukan pada kelompok garis keras Sunni dari Tentara Naqshbandiya, dan pasukan keamanan akan menembak setelah kelompok bersenjata itu melepaskan tembakan. Seorang perwira kedua mengatakan 14 senapan Kalashnikov dan empat senapan mesin PKM ditemukan di lokasi itu. Dua tentara tewas dan tujuh cedera dalam operasi itu,kata mereka. Sisanya adalah para pemrotes dan anggota kelompok garis keras, kata para perwira militer mereka. Kekerasan itu terjadi hanya beberapa jam setelah utusan PBB Martin Kobler mengimbau kedua pihak menahan diri di Haijah, di mana ketegangan meningkat. "Saya mendesak pasukan keamanan Irak menahan diri dalam menegakkan hukum dan ketertiban dan para demonstran melakukan unjuk rasa secara damai," kata Kobler. Para pemrotes turun ke jalan-jalan di daerah-daerah yang berpenduduk mayoritas Sunni selama lebih dari empat bulan, menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mengecam apa yang mereka sebut menargetkan masyarakat minoritas mereka oleh pihak berwenang yang dipimpin Syiah. Selasa bukanlah yang pertama kali unjuk rasa berubah menjadi pertumpahan darah -- pasukan keamanan membunuh seorang pemrotes di kota Mosul Irak utara pada 8 Maret, dan delapan demonstran dekat Fallujah, barat Baghdad pada 25 Januari. (*/jno)