PM Boris nyatakan Inggris tak akan menyesali kematian Soleimani
Senin, 6 Januari 2020 9:57 WIB
Para pelayat mencium peti mati Komandan Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani yang terbunuh dalam serangan udara di bandara Baghdad, di Ahvaz, Iran, Minggu (5/1/2020). ANTARA FOTO/Hossein Mersadi/Fars news agency/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/aww.
London, (ANTARA) - Perdana Menteri Boris Johnson pada Minggu mengatakan bahwa Inggris tidak akan menyesali kematian komandan Pengawal Revolusi Iran Qassem Soleimani, yang tewas akibat serangan pesawat nirawak Amerika Serikat di Irak pada Jumat.
Namun pihaknya menyerukan pengendalian diri untuk merespons kematiannya.
Soleimani "bertanggung jawab atas pola tingkah laku yang memecah belah dan mengacaukan di kawasan. Mengingat peran utama yang ia mainkan dalam sejumlah aksi, yang menewaskan ribuan warga sipil tak berdosa dan personel barat, kami tidak akan menyesali kematiannya," kata Johnson melalui pernyataan.
Ia menambahkan: "Seruan ... aksi balasan akan menciptakan lebih banyak kekerasan."
Johnson mengaku telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump, Kanselir Jerman Angela Merkel dan juga Presiden Prancis Emmanuel Macron soal situasi mendidih di Timur Tengah. Dia menambahkan: "Kami berkoordinasi erat dengan semua pihak untuk meredam konflik."
Menurutnya, sejumlah langkah telah ditempuh untuk meningkatkan keamanan bagi personel dan kepentingan Inggris di kawasan tersebut. (*)
Namun pihaknya menyerukan pengendalian diri untuk merespons kematiannya.
Soleimani "bertanggung jawab atas pola tingkah laku yang memecah belah dan mengacaukan di kawasan. Mengingat peran utama yang ia mainkan dalam sejumlah aksi, yang menewaskan ribuan warga sipil tak berdosa dan personel barat, kami tidak akan menyesali kematiannya," kata Johnson melalui pernyataan.
Ia menambahkan: "Seruan ... aksi balasan akan menciptakan lebih banyak kekerasan."
Johnson mengaku telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump, Kanselir Jerman Angela Merkel dan juga Presiden Prancis Emmanuel Macron soal situasi mendidih di Timur Tengah. Dia menambahkan: "Kami berkoordinasi erat dengan semua pihak untuk meredam konflik."
Menurutnya, sejumlah langkah telah ditempuh untuk meningkatkan keamanan bagi personel dan kepentingan Inggris di kawasan tersebut. (*)
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Inggris beri dukungan militer lebih banyak untuk Ukraina hadapi ancaman invasi Rusia
14 February 2022 9:48 WIB, 2022
PM Inggris nilai langkah tepat Chelsea dan City mundur dari Liga Super Eropa
21 April 2021 5:46 WIB, 2021
Boris Becker sebut diskualifikasi sebagai momen terburuk karier Djokovic
07 September 2020 6:24 WIB, 2020
PM Inggris Boris Johnson keluar dari rumah sakit, jalani masa pemulihan dari COVID-19 di rumah dinas
13 April 2020 6:25 WIB, 2020
Perdana Menteri Inggris dipindahkan ke ICU setelah gejala COVID-19 memburuk
07 April 2020 7:27 WIB, 2020
PM Inggris dirawat di rumah sakit setelah menderita gejala virus corona
06 April 2020 9:08 WIB, 2020