Virus jembrana merebak di Kuansing, sapi mati mendadak
Senin, 1 Juli 2019 15:36 WIB
Sapi mati akibat jembrana. (Foto Antarabengkulu.com) (Foto Antarabengkulu.com/)
Kuantan Singingi (ANTARA) - Masyarakat Peternak di Kuantan Singingi, Riau, mengeluh dan kaget akibat sejumlah ternak sapi mati mendadak pada beberapa hari ini sehingga mereka meminta perhatian dan solusi dari instansi terkait sebelum menular ke ternak lainnya.
"Sebaiknya ada tim turun untuk melakukan pemantauan dan pendataan," kata warga Kuansing Iyan di Teluk Kuantan, Senin.
Ia mengatakan, sejumlah ternak yang dipelihara oleh masyarakat saat ini terserang penyakit tiba-tiba, ada yang mati mendadak, padahal hasil peternakan itu untuk menunjang ekonomi warga.
Peternak berharap menemukan solusinya agar ke depan tidak ada lagi ternak yang mati terkena penyakit. Peternak juga berharap adanya bantuan dari pemerintah, terutama Bupati Kuansing Mursini dan Wakil Bupati Halim. "Semua itu diyakini ada solusinya," sebutnya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kuantan Singingi Emmerson saat diminta keterangannya membenarkan sejumlah ternak sapi milik warga Kuansing ada yang mati mendadak karena diserang dan terjangkit virus jembrana. "Khususnya sapi Bali yang mati diserang penyakit," ujarnya.
Sapi ada yang tidak terkena, karena diawasi dan dirawat dalam kandang, virusnya itu bernama jembrana yang bisa membahayakan ternak liar yang dilepas warga berkeliaran di luar kandang.
Sapi liar sangat rentan terserang penyakit tersebut, sebaiknya peternak selalu mengawasi dan tidak membiarkan keluar kandang di masa pemeliharaan, selain itu tetap berkonsultasi dengan instansi terkait jika terlihat ada gejala-gejala mencurigakan.
Sedangkan ciri-ciri ternak sapi yang terindikasi terkena virus jembrana, biasanya, ternak mengalami demam tinggi dengan suhu mencapai 38-45 derajat celsius, pada bagian kelenjar limfa ada pembengkakan hebat, selaput lendir mulut sapi ada luka dan sering perdarahan pada kulit.
"Sapi juga mengalami penurunan nafsu makan diiringi dengan diare yang bercampur darah," terangnya.
Dia mengimbau warga memiliki ternak yang terlihat nampak tanda seperti itu harus segera diberikan imunisasi seperti obat atau vaksin pencegah virus jembrana agar tidak mati.
"Jika sapi sudah terjangkit harus dipisahkan agar tidak menular ke sapi lain," kata Emmerson.
"Sebaiknya ada tim turun untuk melakukan pemantauan dan pendataan," kata warga Kuansing Iyan di Teluk Kuantan, Senin.
Ia mengatakan, sejumlah ternak yang dipelihara oleh masyarakat saat ini terserang penyakit tiba-tiba, ada yang mati mendadak, padahal hasil peternakan itu untuk menunjang ekonomi warga.
Peternak berharap menemukan solusinya agar ke depan tidak ada lagi ternak yang mati terkena penyakit. Peternak juga berharap adanya bantuan dari pemerintah, terutama Bupati Kuansing Mursini dan Wakil Bupati Halim. "Semua itu diyakini ada solusinya," sebutnya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kuantan Singingi Emmerson saat diminta keterangannya membenarkan sejumlah ternak sapi milik warga Kuansing ada yang mati mendadak karena diserang dan terjangkit virus jembrana. "Khususnya sapi Bali yang mati diserang penyakit," ujarnya.
Sapi ada yang tidak terkena, karena diawasi dan dirawat dalam kandang, virusnya itu bernama jembrana yang bisa membahayakan ternak liar yang dilepas warga berkeliaran di luar kandang.
Sapi liar sangat rentan terserang penyakit tersebut, sebaiknya peternak selalu mengawasi dan tidak membiarkan keluar kandang di masa pemeliharaan, selain itu tetap berkonsultasi dengan instansi terkait jika terlihat ada gejala-gejala mencurigakan.
Sedangkan ciri-ciri ternak sapi yang terindikasi terkena virus jembrana, biasanya, ternak mengalami demam tinggi dengan suhu mencapai 38-45 derajat celsius, pada bagian kelenjar limfa ada pembengkakan hebat, selaput lendir mulut sapi ada luka dan sering perdarahan pada kulit.
"Sapi juga mengalami penurunan nafsu makan diiringi dengan diare yang bercampur darah," terangnya.
Dia mengimbau warga memiliki ternak yang terlihat nampak tanda seperti itu harus segera diberikan imunisasi seperti obat atau vaksin pencegah virus jembrana agar tidak mati.
"Jika sapi sudah terjangkit harus dipisahkan agar tidak menular ke sapi lain," kata Emmerson.
Pewarta : Asripilyadi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Perjalanan reforma agraria di Asahduren, sertifikat tanah ulayat buka akses ekonomi masyarakat
19 November 2025 12:03 WIB
Terpopuler - Regional
Lihat Juga
Tambahan TKD Rp108 miliar buat Kepulauan Mentawai. Wagub Vasko: Peluang percepatan pembangunan
07 March 2026 20:04 WIB
Personel Lanud Pangeran M Bun Yamin asah kemampuan melalui latihan aeromodeling
13 February 2026 18:37 WIB
Pesawat tempur Super Tucano dan F16 TNI AU uji coba pendaratan di jalan tol
11 February 2026 18:58 WIB
Truk pengangkut BBM pascaterbannya Jalan Lembah Anai ke jalur Sitinjau Lauik
07 February 2026 22:21 WIB